1/10/2015

PERMEN

Adik suka sekali permen. Umm jaraaang membelikan.

Ketika Umm membuka kulkas. "Bluk"
What? Apa yang jatuh.  Permen?
Sejuta tanya berkenyamuk di pikiran Umm. Siapa yang membelikan. Umm memungut benda itu.

Seketika Umm geli. Oh ya kemaren ke pasar tradisional beli terasi. Kemasannya mirip permen memang. Karena tadi merknya menghadap lantai dan dapur dalam keadaan remang-remang Umm mengira permen. Tambah geli membayangkan kalau Lazua tanpa tanya langsung buka bungkus dan hap. Pasti wajahnya langsung merah padam.

Umm cerita sama Abang Qw. Ternyata Ia juga mengira itu permen. Untungnya sempat baca. Abang geli sendiri juga ketika ia mengetahui hal itu bukan permen.

Umm cerita  sama Lazua. Wajahnya terlihat tidak  mudeng. Tanpa bermaksud menjahilinya Umm menyuruh Abang mengambil.
"Lazua mau ini? Aromanya kurang pas di hidung."
Ia mengangguk. Umm membukakan.
"Yaaa, Umm. Bohong." Ia terkejut ketika menyium aroma terasi.
"Ih tidak bohong. Umm tidak bilang ini, permen. Sekarang enak tidak kalau belum bisa membaca?"
"Tidak enak."
Hmm sebenarnya itu yang Umm tuju. Ingin Lazua merasa perlu bisa membaca. Yes. Tunggu saja. Bila itu datang dari diri sendiri, pasti lebih cepat. Insya Allah.

Cerita permen tidak berhenti sampai disitu. Manjang. Az pulang dari masjid. Umm ingin tahu bagaimana reaksinya.
"Az mau permen?"
"Mau."
Abang Qw mengambil satu buah. Rupanya Az sudah tahu itu sebelumnya. Umm korek bagaimana ia mengetahui.

Ketika ia mengulik kulkas. Menemukan permen X tersebut. Terbit seleranya. Ia menduga itu permen Asam Jawa. Ia menilik dan menimang-nimang. Kok warnanya berbeda, agak pucat. Setelah membaca ia tidak jadi mengkonsumsi. Glek. Ha ha masing-masing punya pengalaman dengan permen X.

Dari permen X, Umm juga belajar tidak jahil karena Az protes. Ia membaca tulisan di atas.
"Lho kok Umm bohong sama aku?"
Ya nak, mestinya Umm belajar konsisten untuk jujur walau itu dengan dalih ingin tahu reaksi Azra.

Tidak terasa tulisan ini, Umm belajar  mengembangkan satu ide menjadi banyak cerita. Padahal dulu sangat sulit dilakukan.

1/02/2015

SEIMBANG

Lazua meniup pesawat plastiknya. Bannya ada 4. Ia bertanya dan menjawab sendiri. Mengapa bannya ada 4. Belum saya jawab. Ia menerangkan jawabannya karena kalau 3, tidak  seimbang.

Walaupun pesawat asli hanya 3. Ia tidak menjadikan itu sebagai acuan. Ya Allah, dek hari ini Umm baru mendengar kau berbicara tentang keseimbangan.  Suatu hari, entah kapan itu kau akan bicara tentang keseimbangan dalam otak dan hidup.