5/14/2012

Sepatu Dahlan


SEPATU PLASTIK




Aku, Ida, dan Lazua dalam perjalanan ke Detos. Beruntung tinggal di daerah Jakarta hampir coret. Pepohonan banyak.  Lazua senang di ajak naik motor tanpa khawatir menghirup udara penuh dengan CO2.   Memasuki  area UI ada tulisan di udara, huruf O2 terbang.
Motorku melaju hingga pintu keluar stasiun Pondok Cina. Kami tertahan dengan kereta yang lewat. Kalau siang tak terlihat juntaian sepatu di atas gerbong. Kalau pagi-pagi terlihat jejeran sepatu dari terbaru hingga yang sudah lama di atas gerbong. Sering geleng-geleng kepala. Mengapa tak sayang nyawa, badan dan sepatu. Barangkali kalau yang jatuh sepatu bisa dibeli lagi. Kalau nyawa bagaimana?
Tiba di parkiran belakang Detos. Langsung menuju ke tempat kumpulan gerai sepatu. Hal yang pertama adalah mencari sepatu Lazua. Seperti biasa aku melihat-lihat dulu dan sambil bertanya harganya. Ketika mampir di gerai pertama langsung dapat namun harganya belum cocok. Berkeliling. Masuk ke toko yang lebih besar menuju rak sepatu anak-anak. Harganya juga belum bersahabat. Ada diskon namun modelnya tidak sesuai. Ada yang cocok modelnya. Namun hanya bisa menelan ludah.
Pelajaran ekonomi waktu SD tak boleh membeli sesuatu di atas kemampuan. Lebih besar pasak daripada tiang, tetapi kalau ilmu penjual agar mendapatkan penjualan yang besar pasang barang yang tak bisa dibelinya. Kalau punya penghasilan besar, tidak seperti itu juga barangkali, tergantung pribadi pembelanjanya. Kalau kualitas sama namun ada harga yang lebih murah mengapa tidak memilih yang harganya kompetitif.  Setelah puas membandingkan model dan harga di berbagai gerai sepatu akhirnya membeli  sepatu Lazua  sesuai dengan keinginan dan harga.
Tak berencana membeli sepatu tetapi ketika lewat di deretan rak-rak sepatu. Ada yang menarik sepatu model open toe terbuat dari plastik. Ingin beli yang asli namun harganya 3 kali lipat. Sadar diri dengan keadaan kantong sambil berjanji pada diri sendiri  bila kantong memungkinkan ingin juga sekali-kali membeli yang asli.
Kesulitanku yang lain ukuran kakiku tak seperti perempuan Indonesia pada umumnya. Kakiku ukurannya 42 sebelah kanan dan sebelah kiri 41. Aku mencoba memasang kedua sepatu dan mencoba berjalan.  Jari terlihat  sedikit menonjol keluar  karena ukuran kakiku  Untung saja bagian depan sepatu terbuka, sehingga membuat kakiku tak kesempitan, tak berkeringat dan mencegah bau.
“Coba Mi..berjalan lagi.”
 Ku turuti sarannya untuk merasakan kenyamanan sepatu tersebut.  Kemudian aku mencoba menekuk bagian belakang walau harganya murah  bagian tumitnya kaku dan tidak melengkung ketika di tekan. Sayang tidak pas kaki. Mestinya syarat sepatu yang baik cukup longgar.  Ku coba berjinjit sambil berputar seperti penari balet di hadapan cermin yang diletakan di lantai. Lazua memandang aku geli. Aku lihat di atas kepalanya ada tulisan  Ummi kumat konyolnya. Seperti komik saja. Ada garis lengkung ke atas di wajah Lazua. Senyum.
Sambil memegang sepatu plastik aku melirik deretan sepatu stiletto, model ramping. Rasanya aku bermimpi bisa pakai sepatu model seperti itu.




Kakiku   cocoknya pakai sepatu model warior atau sepatu kets. Aku memperhatikan sepatu kets di rak sepatu jadi ingat dengan Dahlan Iskan yang suka menggunakan sepatu kets. Dari SMP hingga kelas 2 Aliyah tak memakai sepatu. Terbayang betapa keras kaki itu untuk menempuh cita-cita. Kaki itu punya hati baja. Semoga aku dan anak-anakku punya hati baja untuk menggapai cita-cita




Sepatu plastik itu langsung aku pakai ketika tiba parkiran di motor lem sepatu lepas.
Tak mau berkata Triceratopsaurus Aku lepas  sepatu tersebut ku ganti  dengan sandal yang lama. Selanjutnya kembali ke gerai sepatu.
“Mbak, ini kok lemnya lepas.”  sambil kutunjukkan sambungan sepatu yang lepas. Pelayan toko itu ramah. Ia mulai sibuk mencari sepatu berkeliling ke gerai sepatu yang lain.Tak berapa lama ia menenteng sepatu dengan model, ukuran dan warna yang sama.
Aku pakai lagi sepatu itu. Namun yang terjadi lemnya lepas. Aku minta ganti.
“Sayang bu, itu adalah stok terakhir.”
“Ya tak gak apa-apa, terimakasih ya mbak,” ucapku tulus karena ia telah bersusah payah mencarikan sepatu tersebut.  Aku tak sempat mengganti sepatu dengan model yang lain karena buru-buru ke tempat Qowi.
“Yuk Da, kita tempat bang Qowi. Nanti kesorean.”  Ida tersenyum melihat sepatuku yang pinggirnya terbuka.
Aku tak berkehendak dengan ukuran kakiku. Produsen saja yang tidak jeli membaca pasar membuat  ukuran sepatu yang lebih panjang dan lebar dengan harga murah. Kalau aku produsen sepatu  bisa memiliki sepatu yang pas di kaki dengan harga murah dan mendapatkan uang. Ada lampu neon, aku hidupkan sakelar. Cetrek,” ujarku pura-pura menghidupkan sakelar, tanganku melepas stang. Aku berusaha menahan keseimbangan motorku. Motor oleng ke kiri. Untung stang bisa aku kuasai sehingga posisi motor kembali stabil.
“Breeet.” Ya Ampun sepatuku semakin lebar terbuka. Kuinjak kencang-kencang sepatu  agar tak terbuka semakin lebar. Lama-lama capek juga aku menginjak sepatu tersebut. Serba salah, diangkat sepatu bisa terbang. Kalau jatuh ke aspal trus motor dibelakangku bisa olengkan tertabrak sepatuku atau tiba-tiba ada angin, terbang ke wajah pengendara motor di belakang. Tak ada jalan lain menginjak sepatu dengan tabah.
Sampai di pintu gerbang Ma’had Qowi, aku menyapa pak Satpam, Pak kami mau bertemu dengan Qowi.”
Aku turun dari motor. Sepatu kananku melompat sendiri sebentuk lengkung.

“Bruk, terhempas di tanah.”  Bila digambarkan bentuknya  
Kepala lazua mengikuti gerakan sepatu bahkan ketika sepatu terhempas ke tanah kemudian balik melompat lagi dan akhirnya mendarat dengan sukses di dekat kaki Lazua.
“Ha ha ha,” tawa kami kompak. Beberapa santri yang sedang duduk di depan kantin senyum-senyum.
♪♪♪

Alhamdulillah sepatu plastik itu bisa di jahit walau sepatu itu harganya murah tetapi sangat berjasa menemaniku aku kemana-mana.


http://noura.mizan.com/index.php?fuseaction=event_det&id=195
Sumber: http://www.modecantik.com/wanita-dengan-kepribadian-pakai-sepatu/



No comments:

Post a Comment