Showing posts with label Festival Kuliner Serpong 2014. Show all posts
Showing posts with label Festival Kuliner Serpong 2014. Show all posts

9/23/2014

Antara Berjuang, Gigih, dan Sabar

Sebelum datang  ke acara Festival Kuliner Serpong  saya searching Summarecon Serpong mendapatkan pengumuman lomba foto The Harmony of Healthy Living. Yeaa sekali mendayung dua  tiga pulau terlampaui.  Sekalian datang ingin foto-foto juga.

Sayang disayang  persyaratan foto harus menggunakan kamera  digital. Sedang foto yang diambil dapetnya  dari kamera handphone. Hasil foto dari kamera digital tidak dapet. Berharap menang seperti punguk merindukan bulan. Soalnya foto belum tentu sesuai dengan tema.  Skill mengambil foto juga belum tentu dapat. Hanya saja ada free workshop fotografi  bagi peserta. 

Sebulan waktu yang tersedia tidak membuat saya bisa datang kembali ke Summarecon. Mestinya bila menginginkan sesuatu berjuanglah sekuat tenaga. Yup kesempatan tidak datang dua kali. Pengalaman ini sangat berharga untuk dijadikan pelajaran. Entahlah apa hubungannya antara berjuang, gigih dan sabar. 

Mereka bisa tampil prima apabila ada  the harmony of  healthy living



Anak kecil ini seakan berkata betapa pentingnya pepohonan bagi paru-paru hunian


Antara berjuang, gigih dan sabar










9/04/2014

Kebersamaan Saat Festival Kuliner Serpong 2014

Bersama atau Sendiri Tetap Bersyukur

Beberapa hari yang lalu saya menonton TVRI. Ada acara tentang suku Bone Lolibu. Suku yang tinggal di pedalaman Sulawesi Tenggara. Acara tersebut mengangkat beberapa kehidupan manusia yang memilih tinggal di hutan. Ada keluarga yang mencari air saja harus masuk ke gua (dalam kamus KBBI bukan goa). Masuk sekitar 5 meter ke perut bumi untuk mengambil air jernih. Hanya dua diregen yang diambil. Ketika kembali ke atas tanah harus berjuang kembali.

Keluarga itu untuk memenuhi kebutuhan pokoknya dengan cara menanam ubi dan singkong. Ketika malam tiba mereka menyantap makanan berupa singkong. Ada nilai kebersamaan dan  tampak sangat nikmat di raut wajah mereka sekeluarga.

Kemudian ada seorang bapak yang tinggal sendirian dengan rumah seadanya tidak ada dinding apalagi jendela. Karena hanya ada lantai rumah yang tidak rapat. Rumah itu dibangun diatas pohon. Beliau mengkonsumsi ubi. Mengolahnya dengan cara direbus atau dibakar (saya kurang memperhatikan). Bapak yang rambutnya panjang sepertinya tidak pernah tersentuh  barbershop itu  menyantap makanan dengan lahap.

Di bagian lain ada seorang perempuan tua tangguh tinggal sendiri dekat hutan. Ia mencari makan di hutan. Lagi-lagi ketika menikmati makanan yang 'seadanya' terlukis wajah syukur.

Berkait dengan opening di atas, Alhamdulillah saya dapat info dari Mak Hayya tentang Festival Kuliner Serpong 2014. Yup tentang santap menyantap.



Untuk mencapai  Summarecon Mal Serpong saya menggunakan komuter cerita gedubrakannya  disini. Singkat cerita  taksi gretongan dari Mak Waya menyapa pelataran mall. Kami disambut 'penerima tamu' berpakaian adat dari Sulawesi Selatan. Serasa berada di kerajaan Bone











Sepintas dipelataran selatan Summarecon Mal Serpong ada rumah adat suku Toraja, Tongkonan. Tanpa melihat meeting point acara blogger. Kami menuju tempat perhelatan. Ooo bukan. Buka hp, ternyata tempatnya ada di pintu utara. Melewati beberapa toko. Ya ampun ramai sekali suasananya. Kata teman SMS, ini mall yang tidak pernah sepi.




Bertemu teman-teman, ketika mendaftar dapat press release, kopi dengan tempat berukiran khas Sulawesi Selatan, voucher dalam bentuk kartu pembayaran, voucher belanja di SDC, majalah Wonderful life, Benecoal, dan payung.  Acara ini berlangsung dari tanggal 15 Agustus hingga 7 September 2014. Tema tahun ini kuliner Sulawesi Selatan seperti tampak dari rumah  dan pakaian adat, "Sulawesi Nyamanna'... Pe Sadap". Tahun sebelumnya Beauty of Bali (2011), Minang nang Rancak (2012), dan Jawa Sing Ngangeni (2013).




Dokumen milik Summarecon Mal Serpong: suasana pembukaan Festival Kuliner Serpong 2014


Sebelum menikmati kulineran, para Blogger diajak melihat Summarecon Digital Center. Sekembali dari SDC. Blogger dijamu di tempat khusus. Kalau tidak, harus bergantian dengan pengunjung lain. Dari sisi penyediaan, penyelenggara sangat  cukup menyediakan  kursi untuk makan. Namun karena malam itu banyak keluarga yang datang. Maka harus bersabar untuk bergantian. Tidak hanya itu ketika membeli juga terlihat antrian ditiap booth. Lebih-lebih booth yang menjual masakan Sulawesi Selatan.

Booth Kasir

Bicara antri ada juga booth yang tidak kalah seru, yaitu booth kasir. Pengunjung membeli kartu pembayaran dan dapat mengisi saldo kembali. Tempat tersebut berada diluar area pedagang. Tempat yang berbentuk Tontonan eh Tongkonan, rumah adat suku Toraja sangat eye-catching. Pasti banyak orang penasaran dengan ukiran di rumah tersebut. Katanya ada tanduk Kerbau sayang luput dari perhatian. Ketika  melihat arsip foto ternyata saya mengabadikan.  Ada juga lampu-lampu yang terbungkus dari kain Sulawesi Selatan, saya tidak tahu apakah kain itu sarung Mandar atau kain Sengkang.



Kepala kerbau


'Muter-muter'

Sebelum memilih untuk membeli, saya berkeliling melihat semua  olahan. Kalau mengikuti nafsu, ingin melahap semuanya. Terutama masakan Makasar. Sulawesi Nyamanna.... Pe Sadap. Mie Cakalang Rumah Palem, Sop Conro, Coto Makasar Cotota, Lumpia Sulawesi, Baji Pamai, Pangsit Mie Ujung Pandang, Ikan Tude Bakar Rica Oma En, Otak-otak Baba 'The Makassar', Kambing Guling. Menurut sumber yang terpercaya puluhan pedagang kuliner telah diseleksi dan dipilih melalui kriteria rasa, penyajian, kebersihan dan juga harga yang cucok mantap sumantap.

Toraja salah satu penghasil kopi terbaik di dunia. Orang Makassar mempunyai tradisi minum kopi


Kenikmatan tersendiri melahap makanan setelah mengantri

 

Nasi Kuning Cakalang? Bagaimana rasanya.?


Masakan dari daerah lain juga diminati. Selera orang berbeda. Tentu saja juga karena ruh penyelenggaraan ini adalah festival kuliner.

Dalam fact sheet yang dibagikan, Cut Meutia GM of Corporate Communication PT. Summarecon Agung, Tbk menjelaskan ada 67 stand makanan dan 27 gerobak yang mengikuti kegiatan Festival Kuliner Serpong 2014 (FKS 2014). Beberapa pedagang makanan didatangkan langsung dari tempat asalnya agar pengunjung merasakan cita rasa yang asli.

Kapal Pinisi


 

Saat berkeliling  menemukan panggung berbentuk kapal Pinisi. Saking tidak mau rugi untuk kehilangan momen ini. Saya menuju belakang panggung untuk memfoto.  Kapan lagi dapat jepretan kapal terdampar di depan Summarecon Mal Serpong. Replika yang sempurna ada Anjong (segitiga dibagian kapal), Sombala (layar utama aslinya 200 meter), Tampasere (layar kecil), Cocoro (layar terdepan dan ditengah kapal), dan Terangke (layar pembantu di bagian belakang kapal). Kapal ini terdiri dua layar utama, tujuh layar yang lain. tiga diujung, dua di tengah dan dua di belakang. Sama tidak dengan yang asli dan miniatur. Coba hitung layar pada foto berikut. H h memang belajar matematika. 






Foto favorit saya


Panorama pantai biasanya ada mercusuar. Wiih Summarecon Mal Serpong bisa ngangkut bangunan yang sangat berjasa bagi pelaut ini di tengah kerumunan meja makan. Serasa makan di pantai. Apalagi ada dua skrin (screen) menampilkan gelombang lengkap dengan suara ombak. Ditambah tiupan angin karena berada di-outdoor. Klop.

Mercusuar di Festival Kuliner Serpong dimanfaatkan tempat penukaran struk transaksi senilai Rp 100.00, sayang seribu sayang setelah muter-muter saya tidak punya daya (lebay) untuk menukar kupon undian. Konon (jadul diksinya) pemenang akan mendapatkan 1 buah Vesva Primavera. Diundi pada periode akhir acara.





Dekat panggung ada 'papan' (board?)  Instagram. Ini ada lombanya juga. Periode 15 Agusus sampai tanggal 4 September. Lucu juga ya kalau foto sama, ibu dan ayah yang sudah sepuh, beliau kan beda generasi. Belum ada Instagram pada  zaman muda. Foto pre Wed juga asik. Foto Keluarga Berencana suami, istri, dan anak. Atau foto bareng bersama teman-teman. Lagi-lagi  penyelenggara menfasilitasi kebersamaan.






Icip-icip


Booth oleh-oleh khas Sulawesi

Pilihan kuliner jatuh pada es Kacang Merah Pelayan melayani dengan cepat dan ramah. Tempat bersih seperti tenant lain. Mengenai rasa kacang merah berbeda dengan yang biasa saya beli di warung Pempek. Es ini terasa lebih asam namun menyegarkan. Tampilan serutan  es dan susu kental manis yang menimpa merah sirup menggugah selera. Maunya bertanya apa saja bahannya. Tidak saya lakukan sebab pasti dicolek sama orang yang antri. Porsi es kacang merah sangat besar. Mengenyangkan.

Sisa saldo saya gunakan membeli oleh-oleh untuk para ksataria dirumah,  suami, berupa Benecol (dari penyelenggara blogger sudah dapat dua) sedang untuk anak-anak kue Ku Thailand, teh Pucuk dan Somay. (ketika sampai di rumah, anak-anak menyerbu bawaan. Mereka senang. Inikah keberkahan itu? Kebersamaan yang saya lihat di FKS terbawa hingga rumah, Menyukuri seluruh rejeki sedikit atau banyak akan menambah kenikmatan hidup. Akhirnya bertambah dan terus bertambah)


Beruntungnya makan bersama blogger lain bisa mencicipi makanan pilihan mereka. Saya mencoba Sop konro atau konro bakar (saya lupa menanyakan nama masakannya). Makanan yang terbuat dari tulang Iga di bakar dengan kuah. Pe sadap (sangat enak).
Daging empuk dan tidak alot. Pinter memasaknya tidak terlalu lunak. Bumbu terasa kuat dilidah. Begitupula bumbu pada kuahnya bermain pas pada indra pengecap. kuah dipisahkan di mangkok lain. Aroma khas daging menggugah indra penciuman. Karena masih hangat  aroma itu membumbung ke udara. Ada sambal yang jarang terlihat di Jakarta.



















Sempat pula memfoto kue-kue yang dibeli mak Fadlun. lontongnya besar, panada, dan kue lapis. Sayang kue itu untuk oleh-oleh gak berani minta. Minta? Beli ndiri. 

Acara

Sangat menyenangkan hadir tanggal 23 Agustus 2014 karena ada parade karnaval nusantara dari Gading Night Carnival (GNC) dan ditutup pertunjukan kembang api. Ada pengamen Sulawesi, Kolintang, instrumen Makasar (info setiap hari) dan  juga pemenang NEZ Academy NET TV Barsena Bestandhi, sayang saya tidak tahu padahal hadir tanggal itu. Lain kali benar-benar baca secara saksama (tekt proklamasi???) baca daftar acara di web.  Pada tanggal lain katanya ada Kamasean "Idol" (15 Agustus), Ermy Kullit (24 Agustus), dan Priskila Shafira (7 September).







Manfaat
Event besar ini benar-benar dimanfaatkan pengunjung untuk mengajak keluarga, sesuai tagline Summarecon Mal Serpong (SMS), Your family Mall. Untuk makan sendiri tidak masalah karena tidak terlihat, bisa saja makan semeja dengan orang lain. Beberapa kali pemandangan orang tua yang sudah duduk dikursi roda. Ya Allah, ajang seperti ini dapat menjadi sarana anak berbakti pada orang tua. Ada juga yang membawa bayi dan balita. Pemandangan seorang ayah tidak canggung mengajak bayinya bercanda. Padahal bayi itu masih kecil. Makanan membuat keluarga sakinnah ma waddah warahmah ya. Nah lho. Bagaimana tidak, keakraban itu tentu akan mengeratkan tali kekeluargaan.

Indahnya sebuah kebersamaan, Insya Allah momen ini akan terekam hingga sang balita dewasa kelak.


Untuk etnis Tiongha banyak yang datang.  Asumsi saya: merupakan budaya mereka  mengajak keluarga makan bersama.  Saya teringat dengan almarhum om. Beliau senang mengajak tante, nenek, sepupu dan saya pada akhir pekan. Oh rupanya itu kebiasaan mereka.

Manfaat lain, anak atau kita sendiri dapat merasakan betapa kaya kuliner Indonesia. Serta dapat menyentuh secara langsung budaya Sulawesi Selatan yang dijadikan sebagai ikon FSK 2014. Selain itu  ada musik, kain, tarian, baju daerah, rumah adat, bahkan orang menenun dengan alat tenun bukan mesin. Untuk yang kepingin banget ke Sulawesi Selatan tetapi karena perlu waktu, tenaga, dan biaya. Acara ini sangat worth it. 

Bagi anak-anak tentu belajar dengan cara menyenangkan. Mereka merasakan, menyentuh, mendengar, mencium, aroma dan melihat. Berapa pelajaran yang bisa diraih tentang warna tekstur makanan, cara pedagang memasak, belajar merasakan rasa asin, gurih, pedas, manis. Atau sekadar membedakan masakan antar daerah.  Tidak itu saja anak-anak balita gembira menikmati permainan odong-odong. Tawa mereka tentu membuat para orang tua merasa ikut senang. So..lelah bekerja terbayarkan dan ketika menghadapi rutinitas bisa kembali fresh. 

Disamping itu ada pembelajaran tentang lingkungan dengan cara mengumpulkan botol. Lagi-lagi mendapat hadiah bagi beruntung. Subjek program ini adalah Bring Used Bottles. Hanya membawa lima botol bekas pakai penukar dapat 1 kupon. Hadiahnya berupa Blackberry Z3, Voucer belanja SMS Rp 250.000 + Voucher SDC. Pengundian 7 September 2014 pukul 19.00 WIB. 


Menurut penilaian mata awam saya, event ini sukses.

  • Dari tempat penyelenggaraan, akses menuju acara mudah (ada pintu tol khusus untuk Summarecon), 
  • fasilitas memadai seperti parkir, toilet, karena berdampingan dengan mall
  • panggung, lighting, sound system memuaskan 
  • promosi yang baik. 
  • desain yang sesuai dengan tema dan hiburan.
  • tenant yang mewakili masakan nusantara
  • Dengan menggunakan kartu sebagai pembayaran mempercepat proses belanja. Tidak perlu merogoh kantong, membuka dompet setiap melakukan pembelian. Memperpendek waktu antrian.
  • Berhasil membuat sebuah keluarga jadi kompak. 
  • Media pembelajaran anak untuk mengenal budaya Indonesia terutama masakan tradisional. Untuk anak balita belajar 'membaui, mengecap, mengenal warna makanan, dan lain-lain. Makan sambil belajar.
  • Kebersihannya area terjaga. Pasukan berpakaian adat siap siaga. Menurut saya unik, para pekerja mengenakan hal ini. Terima kasih untuk para sigapper (sigap. bikin istilah sendiri) Tidak terbayang bila tidak ada mereka. Makanan senikmat apapun akan terasa kurang. 


Keberhasilan ini tentu saja selain EO yang hebat juga  berkait dengan keberadaan Summarecon Mal Serpong. Sebuah mal yang diresmikan tanggal 28 Juni 2007. Sebagai pusat belanja yang menjadi lifestyle center. Berkembang dari 110.000 m2 menjadi 200.000 m2. Terdiri 3 lantai berkonsep fashion, food dan entertainment terpadu. Selain itu memiliki konsep "The Downtown Walk" yang buka hingga jam 24.00. 

Bagi yang ingin berkunjung pada Festival Kulinier Serpong 2014, catat waktunya!  Hari Senin hingga Kamis pukul 16.00 s.d 22.00 WIB, Jum'at pukul 14.00 s.d 23.00 WIB, dan Sabtu Minggu pukul 11.00 s.d 23.00 WIB. Sediakan gadget untuk mengabadikan moment ini. Banyak obyek yang sayang dilewatkan. Sekali lagi hingga tanggal 7 September 2014.



Tekan link ini: Peta SMS


Tulisan ini diikutsertakan dalam Summarecon Mal Serpong Culinary Writing Competition.



Summarecon Mal Serpong Culinary Writing CompetitionSummarecon Mal Serpong Culinary Writing Competition

8/31/2014

Naik komuter ke Festival Kuliner Serpong

23 Agustus 2014 saya ingin menghadiri acara Festival Kuliner Serpong. Saya naik busway dari Kuningan Barat sambil terus melirik jam di handphone. Pukul 11.30 WIB ada pemberangkatan bus. Setengah berlari menelusuri jembatan penghubung yang panjang dari halte Semanggi ke halte Bendungan Hilir. 

Ngos. Ngos  begitu kira-kira nafas berbunyi. Lumayanlah membakar lemak. Sebelumnya kulineran masakan Kalimantan Selatan Ketupat Kandangan dan Lontong Segitiga. Full santan. Berita buruk tidak selalu mengkhabarkan negatif. Jalan jauh = sehat. Tetapi kaki bilang pegal, pegal. timpuk negatif.

Selanjutnya naik moda berlambang elang ke arah blok M. Kurang 4 menit kaki  menginjak halte Gelora Bung Karno. Tangan bermain di tuts Hp menulis pesan di inbox teman agar ia mau menunggu. Belum ada balasan. (Ketika bertemu ia cerita sementara uninstall FB, PR untuk FB mengecilkan size nih). Kalau bisa terbang. terbang deh agar segera sampai.  Kurang 1 menit dari 11.30 WIB  mata menyapa shelter. Persis samping Fx Sudirman. Sepintas ada bus tulisan Summarecon. Alhamdulillah.

Huf. Oh penonton kecewa. Ternyata itu bus shuttle ke Bekasi. Bukan 'Anang' (panggilan untuk anak laki-laki bahasa Banjar, Kalimantan Selatan,  waktu SMA) kalau menyerah. Seseorang menyarankan saya melihat jadwal bus di halte. Tertulis kalau tidak salah jam keberangkatan selanjutnya 16.30 WIB (Menyesal tidak memfoto jadwal di halte. Kan bisa dimanfaatkan untuk orang lain. Di-share di linimasa).

Keburu dimulai acara:


Akhirnya kembali ke rencana awal naik komuter. Belum pernah naik dari stasiun Sudirman. Terbayang harus menyeberang kembali (jalan Sudirman dekat stasiun Sudirman sangat lebar) kalau naik bus turun harus naik jembatan penyeberangan yang panjang. Jika tidak terburu-buru tidak masalah naik bus. Memilih taksi sebagai pengantar adalah pilihan tepat karena dari dukuh atas itu ada jalan memutar kebawah jembatan dan berhenti persis depan stasiun. Baru tahu ada jalan di bawah jembatan layang. Serasa jadi penemu sekaliber Thomas Alva Edison. 

Sambil facebook-an dengan Mak Waya. Karena janjian berangkat sama-sama. Lama menunggu. Kalau sendiri memang begitu. Coba ada teman tidak terasa Setiap ada kereta yang datang saya celingukan. Mak Waya tidak membalas massage eh message. Kalau naik kereta, saya bisa naik kereta yang sama. Ia tidak usah turun. Kan lama lagi menunggu kereta. Mata  bolak-balik melihat aplikasi komuter. Aplikasi itu sepertinya live. Bisa langsung melihat posisi commuter line (saya tidak bertanggung jawab dengan kebenarannya).

Sekitar pukul 13.00 Waya menelpon, "Mak, kita turun mana?"

"Turun Tanah Abang." Persepsi, saya kami akan naik kereta turun di Tanah Abang baru nyambung ke Serpong. 

Tidak berapa lama ada kereta datang dari Lenteng Agung. Saya amati satu persatu penumpang yang turun. Tidak tahunya Mak Waya diantar suami ke Stasiun Sudirman bukan naik komuter. Kami kemudian menunggu komuter selanjutnya. Agak banyak moda ini menuju Tanah Abang di stasiun Sudirman. Bisa dari Bekasi atau Depok/Bogor. Sambil menunggu saya mengeluarkan BB dari dalam tas sambil di charge. Ternyata panas minta ampun.

"Beri parasetamol saja," saran Mak Waya. Oh ya handphone Mak Waya tidak diinstall FB karena dinilai berat. Oo ternyata dari tadi saya message tidak dibalas  gara-gara itu. Saya mencoba resepnya. Juga menghapus banyak aplikasi di BB benar tidak ngambekan dan panas dalam lagi. Ingat kata koko di Roxy. HP itu seperti orang kalau banyak masalah lambat loadingnya. Kata saya tergantung orangnya kalau ia sabar pasti tetap adem.

Banyolan obat penurun panas Waya membuat saya geli. Dasar mak-mak kalau mendengar kata panas langsung ingin obat penurun panas saja. Nah kebersamaan  seperti ini tidak akan dapat kalau berangkat sendirian. Kemudian saya curcol tentang mengejar shuttle bus Summarecon Serpong. Walau sudah berusaha tetap tidak dapat. Next harus prepare setengah jam ke tempat angkutan yang ada jam tertentu keberangkatannya.  Daripada seperti yang saya alami. Kalau ke bandara  saya harus menyiapkan waktu 4 jam sebelumnya. Lebih baik menunggu daripada telat  beberapa menit. Gigit jarinya poool.

Sambil bercanda sama Waya, "Ada baiknya tagline diblog ganti jadi Senang, Senang, Senang. Jangan Sabar Syukur Ikhlas lagi. Sepertinya diuji terus." 

Jawab Mak Waya mestinya lancar, berhasil, trus satunya lagi lupa.  Kami tertawa berdua menertawakan nasib saya hari itu. Tetapi memang saya harus menunggu Waya. Kalau tidak pasti sendiri digigit sepi di kereta. Untuk tagline, SSI, rasanya tidak ingin saya ubah. Kehidupan tidak menjanjikan kesenangan saja. Lalu antibodi dalam menghadapi semua itu apa? Ya... Sabar Syukur Ikhlas. 

link peta 

Kereta Rel Listrik (KRL) datang, kami naik menuju Tanah Abang. Sebenarnya ada yang langsung ke Serpong tetapi jam 16.00 an. Jeee keburu bubar. Sesampai di sana Mak Waya 'panik' karena komuter menunju Serpong hampir sampai sementara belum membeli tiket kereta Tanah Abang-Serpong. Hah berarti salah persepsi ketika ia menelpon tadi. Karena mempunyai tiket elektronik jadi lupa kalau membeli tiket harus menyebutkan tujuan.  Saya kira jauh dekat sama saja. Untuk kasus ini mungkin karena pindah jalur jadi harus membeli tiket kembali atau dari awal menyebutkan tujuan.

Menghitung waktu. Saya memilih mengajak Mak Waya naik ketika komuter tiba. Lebih baik denda daripada menunggu kereta berikutnya. Salah perhitungan, ternyata kendaraan besi yang kami tumpangi berangkatnya 14.02. Jadi tidak langsung berangkat. Mau turun lagi sudah tidak ada waktu.

Sepanjang jalan deg degan juga kalau dendanya besar. Paling parah diomeli sama petugas. Mak cantik ini trauma pernah membeli tiket untuk tujuan suatu stasiun. Ternyata terlewat. So... harus membayar lebih untuk balik lagi. 

Di kendaraan beroda baja karbon ini saya mengobrol dengan orang yang sebelah. Cerita punya cerita kami harus turun di Stasiun Rawa Buntu kalau mau ke Summarecon Mal Serpong bukan Stasiun Serpong. Sesudah itu kalau mau cepat naik ojek sekitar Rp 30.000. Kalau angkot  naik 2 kali. Naik bus jurusan Kali Deres terus turun di Gading. Naik angkot biru satu-satunya menuju SMS. 

Tidak sampai 30 menit kami sampai di Stasiun Rawa Buntu. Janji untuk mengurus tiket mak Waya saya tepati. Cuma berubah pikiran dari langsung lapor ke petugas. Mendadak ingin membeli tiket elektronik baru. Sama-sama bayar Rp 50.000 (misalnya disuruh bayar) lebih baik alternatif kedua yang dijalankan.

Ketika di depan loket ada antrian. Penumpang mengembalikan kartu jaminan. Mereka mendapat kembalian sebesar Rp 5000.  Sebelum terjadi transaksi petugas menghampiri. Bla-bla saya menjelaskan masalahnya.

"Oooh kalau itu  tidak perlu membeli tiket elektronik," begitu penjelasannya.

Ia menolong 'mengeluarkan' mak Waya. Tidak perlu membayar sejumlah uang dan menjelaskan berbagai alasan, Kami blogger. Acara ini menyangkut  masa depan. Jadi tidak boleh terlambat (h h h).

Lepas dari satu masalah kembali bingung. Harus naik apa? Ojek, angkot, atau ...? Mata menyapu halaman parkir. Tidak terlihat ojek. tepatnya ada tetapi tidak ada pengendaranya.  Kami naik ke atas jalan layang. Di sana ada banyak angkot dan taksi. 

"Nah benar naik itu saja, " seru  mak Waya. Ia punya voucher Blue bird, menang kuis disuatu acara. Argometer menunjukkan sekitar Rp 60.000,  tiba di Summarecon Mal Serpong.  Alhamdulillah.  Kesabaran membuahkan syukur. Ikhlas bermuara pada ketenangan. Itulah hidup

 Sabar berbalas kemudahan. Pulang acara malam dapat tebengan dari Mak Dwiyani Artha. Terima kasih Mak.