Showing posts with label Parenting. Show all posts
Showing posts with label Parenting. Show all posts

7/13/2019

Uang Dipegang, Diputer, Bertambah

Umm: "Nak, tahu gak Robert T Kiyosaki belajar bisnis dari kecil.  Ia disuruh pegang uang sama ayah Kayanya. Ia puter uangnya. Trus uangnya jadi bertambah."

Serius anak menanggapi. Sambil bicara tangannya memperagakan.

Anak," Uang dipegang. Trus diputer. Bagaimana caranya  bisa bertambah?" Ia bertanya dengan mimik bingung.

😆 Mamak kolonial bicara dengan anak milenial begitu hasilnya. Dikira anak uangnya  kayak Oreo diputer dicelupi. Anak masih berpikir konkrit sementara mamak abstrak.

Umm," Disulap nak uangnya bertambah."😊

8/17/2018

Merah Putih 73 Tahun

Subhanallah,
Allah menciptakan sel darah merah mengantar oksigen dan karbon dioksida ke tempatnya.
Sel darah putih melawan virus, bakteri dan mikroorganisme.
Subhanallah,
Allah mentakdirkan bangsa Indonesia mempunyai bendera Merah Putih.
Dirgahayu Indonesia  73 tahun!

Beberapa hari ini saya mendokumentasikan kak Endah bercerita.  Bersumber buku karya sendiri. Judul Dera dan Bendera. Berkolaborasi dengan perpustakaan Tetum Bunaya. Setiap hari berbeda kelas. Interaktif dan gaya cerita sesuai umur. Terharu anak-anak milenia menghormati bendera Merah Putih. Nilai-nilai patriotisme tertanam pada anak-anak. Mereka tak merasa digurui.

Semoga generasi kita merawat Indonesia dengan baik. Tak ada jeda waktu, terus berkesinambungan antar generasi. Semoga elemen bangsa dapat mengisi semua sektor pembangunan. Aamiin.

1/16/2016

TELOLIS

Ini perbincangan ibu  dengan anak kelas satu SDnya tentang teroris, ISIS dan Indonesia.
Di TV ditampilkan diagram  orang Indonesia percaya sekitar 1 juta 'percaya' ISIS.  Bocah itu berulang kali menanyakan angka 1 juta.

Akhirnya ibu menjelaskan angka itu artinya yang percaya sama ISIS dan 'dibawah' negara lain.  Sebenarnya teroris itu telolis dari sisi kepribadian soalnya ia berani sama orang yang tidak siap dan beraninya  bersenjata.

Kalau ia berani satu lawan satu, misalnya pencak silat atau di ring tinju. Ibu sambil berpikir kalau memang berani kirim surat ke suatu negara terus latihan perang bersama. Di suatu tempat yang tidak ada penghuninya. H h ini mah telolis. Namanya terorisnya kan maunya menakut-nakuti orang.
Ibu itu mulai membuka kembali pemahaman sang anak. "Dek, katanya ISIS itu bukan Islam terbukti pentolannya bukan dari negara Islam. Tapi sampai di Indonesia  ada orang yang berbeda memahaminya."

Jadinya kan telolis.   Gak baca benar-benar sejarahnya ISIS.

Kalau di video LOL teroris yang beredar ada orang bergamis lempar ransel  terus lari. Nah kalau di Sarinah kemaren pakai celana jin, sepatu kets, dan konon kabarnya jaket berasal dari suatu negara. Ibu mbatin otak teroris menurut berita TV dari suatu kota di Indonesia, ia digambarkan orang garis keras. Nyambung gak yah dengan jins itu.

Dari kejadian ini. Penting banget mengajari anak untuk menyayangi diri sendiri, keluarga, orang lain, bangsa, negara dan bumi. Menyayangi dengan baik dan benar. Menyadari bahwa ia tidak akan bisa hidup sendiri dengan kelompoknya. Allah menciptakan bersuku-suku dan berbangsa-bangsa ada maksud. Ekonomi dan kehidupan yang sakinnah mawaddah wa rahmah itu ada karena ada perbedaan. Tidak terbayang kalau orang homogin (istilah belum cek).

Mudahan-mudahan kedepan  tidak ada telolis yang dimanfaatkan teroris sebenarnya.
Untung saja ya bukan SIS singkatan dari blog ini tapi SSI. Sabar, Syukur dan Ikhlas.

10/31/2015

7 HAL YANG MEMBUAT ISTRI DAN ANAK BAHAGIA

Lazua habis dari kamar mandi ia menuntaskan tuntutan perutnya. Pasti sangat bahagia dan lega bila tidak bermasalah dengan alat percernaan yang satu ini. Ada hal  dalam kehidupan kita yang harus dibuang, dipilah, dan dibagi.

Kata berbagi saya garis bawahi. Pernah mendengar setiap kita berbagi akan mendapatkan berlipat ganda. Bagi kebanyakan orang berbagi urusannya adalah materi seperti uang dan barang. Menurut saya berbagi tidak itu saja. Berbagi bisa waktu, tenaga, perhatian, kebahagiaan. 


Ada yang menarik berkait kebahagiaan di Kota Kasablanka. Mall yang selalu padat dengan pengunjung terutama weekend. Tanggal 3 Oktober ini ada acara Nestle. Mereka menyelenggarakan Happy Date with Legenddady. Event ini diselenggarakan kembali untuk mendukung peran seimbang orang tua dalam mengasuh anak. Mengambil nuansa pantai dengan atribut dan permainan. Sebelumnya ada talk show bersama ibu Rini Hildayani dan Choky Sitohang.  Dari kegiatan itu saya menarik kesimpulan ada 7 hal yang membuat  istri dan anak bahagia. 

TIPS MENGHADAPI ANAK PACARAN

Dalam Islam jelas sekali perintah untuk tidak mendekati zina. Mendekati saja sudah dilarang. Bagaimana kalau anak kita tiba-tiba menunjukkan tanda-tanda jatuh cinta? PR orang tua bertambah lagi. Kalau dilarang dengan keras bisa-bisa salah. Kalau dibiarkan juga salah. 

Ingat  ketika orang tua kita melarang pacaran. Oh inikah rasanya menjadi orang tua. Tingkat kekhawatiran pasti ada. Remajakan kan kadang tidak mengerti mengapa dilarang. Zamannya juga berbeda. Dulu mana ada hengpong. Mana ada WA. Dilarang segala macam cara ditempuh. Sembunyi-sembunyi. Kadang piranti itu diberi password. Eiit ada saja jalan Allah memberi tahu. Tiba-tiba saja bisa terbaca tanpa harus membuka passwordnya. Bagaimana caranya menghadapi anak pacaran?

10/15/2015

Ceria itu Sederhana

Ketika lewat di  kawasan Kemang menuju sebuah acara, saya merasa terpukul dengan gelak tawa seorang pemulung dan anaknya. Mereka tertawa di atas gerobak. Barangkali benar keceriaan bisa dibeli lewat tempat wisata, bisa dipancing lewat kado atau apa saja yang berkait dengan materi. 

Ada yang lain pada pemandangan ini. Seperti sebuah  nasihat pada orang yang melihatnya. Bukan kendaraan mewah  yang mampu membuat anak tertawa melainkan dekapan ibunya. Berbahagialah nak, memiliki seorang ibu, yang mampu membuat  kau ceria.


9/23/2015

Adaptasi di Pesantren 2

Setelah beberapa hari yang lalu anak saya bawa ke psikolog ada perkembangan yang progress. Ia sudah mulai bergabung dengan teman. Saat diajak kembali ke pesantren tidak ada penolakan. Hanya ada penawaran waktu. Semestinya diantar malam ia minta diantar pagi.

Saya memetakan masalah adaptasi anak sebagai berikut.
1. Anak belum siap menghadapi rutinitas pesantren.
2. Belum siap mandiri seperti mencuci pakaian dalam, kaos kaki.
3. Belum siap merawat diri seperti membersihkan dan merapikan tempat tidur, menata pakaian di lemari.
4. Masih bingung dengan siapa pengganti orang tua selama di pesantren.

Masih hitungan hari saya bertemu kembali dengan psikolog Seni Sinaga.  Pertemuan tersebut membahas hasil konsultasi anak dengan ibu Seni. Alhamdulillah ada titik terang. Ibu Seni menyarankan saya dan keluarga mengkondisikan kebiasaan pesantren apabila anak sedang liburan di rumah. Olah raga seperti bulutangkis, berenang atau memanah selama di pesantren. Punya buku harian tempat untuk curhat dan mengeluarkan uneg-uneg.

Selalu ada jalan bila kita mengupayakan dan berdoa. Ada doa yang menurut saya sangat menolong. Doa itu adalah memohon pada Allah agar anak diberi hidayah.

9/18/2015

Adaptasi di Pesantren

Sudah sebulan ini anak saya belum tune in di tempat ia belajar. Sebuah pesantren di Cibinong.
Akhirnya atas saran atasan, saya memilih psikolog Seni Sinaga di Klinik Kancil untuk berkonsultasi. Sebuah klinik psikologi untuk tumbuh kembang anak, masalah remaja dan keluarga.
Awalnya saya masuk ke ruangan ibu Seni. Menceritakan kronologis masalah anak. Kemudian anak saya sendiri masuk ke ruangan. Sekitar 1-2 jam, ia menceritakan apa yang terjadi pada dirinya. Selesai sesi itu, diajak bicara bu Seni tanpa anak.
Saya tidak menyangka masalah adaptasi adalah sesuatu yang besar bagi dirinya. Mengubah kebiasaan dari rumah. Dari yang cuma lipat tangan, kipas-kipas, semua keperluannya beres jadi harus dikerjakan sendiri.
Rupanya persiapan tiga tahun sebelum masuk pesantren baru sisi kognitifnya saja yang saya siapkan. Untuk kemandiriannya belum.
Pola kehidupan pesantren yang teratur plus ketat dan porsi belajar yang banyak,  membuat anak harus ekstra energi untuk beradaptasi. Perlu effort yang besar untuk berdiri tegak di lingkungan yang baru.
Masalah adaptasi juga mengenal karakter teman. Saya baru ngeh ada anak seperti anak saya pada masa adaptasi ia mengamati terlebih dahulu. Timbul kesan ia menyendiri. Anak-anak seperti ini kata ibu Seni banyak. Ada juga anak pada masa orientasi langsung bisa gabung dengan teman.
Ada juga yang  kebablasan bentuknya seperti mem-bully teman. Kata anak pertama saya yang pernah pesantren memang ada saja teman yang berperilaku seperti itu. Lama kelamaan ia akan malu sendiri. Ya seiring pemahamannya tentang bab menyayangi teman tuntas.
Anak yang suka mengganggu teman justru jadi tanda tanya. Ia berbuat demikian kurang perhatian. Malah perlu konsultasi ke BP atau psikolog kalau tindakannya sudah tidak bisa ditoleran. Saya percaya pihak  pesantren sudah mempunyai trik menghadapi anak seperti ini.
Tugas saya sebagai ibu yang mendapatkan paket anak mengalami trauma mencari jalan keluar agar ia bisa bangkit. Mengajarinya menyalurkan uneg-uneg agar tidak histeris karena bingung ketika mendapatkan masalah. Versi anak saya kesurupan. Analisa psikolog ia mengalami histeris.
Hari ini saya bisa bersyukur upaya mendampingi anak dalam menghadapi masalahnya bisa terbantu oleh orang yang mempunyai ilmu. Tentang senyum-senyum sendiri yang dipandang aneh temannya. Bagi kami biasa karena ia suka membaca dan menonton yang lucu-lucu. Hal yang biasa bagi kami belum tentu lumrah bagi orang/ anak lain.
Hal itu diamini bu Seni. Anak saya dalam kondisi berimajinasi. Karena waktu kecil ia terlambat bicara kemudian ia juga merasa bentuk tulisan tangan jelek/ada fase perkembangan motorik halusnya tidak terpenuhi. Makanya ia minder menuangkan. Bahkan ketika disuruh menggambar awalnya ia tidak mau.. Akhirnya ia memilih verbal untuk mengungkapkan imajinasinya. Ya betul ia sering melucu di rumah. Waktu TK saat sudah bisa bicara bukannya saya mendongeng/bercerita tetapi ia yang bercerita. Solusi diberikan buku diary agar ia menuangkan imajinasinya.
Kangen sekali dengan keceriannya. Kangen dengan cerita lucunya. Mudahan ia  mampu mengatasi persoalan-persoalan pribadinya dan segera bisa  beradaptasi.
Allah mengkaruniai manusia dengan tameng sabar syukur ikhlas terhadap masalah. Semoga anak dan teman-temannya solid. Untuk dikatakan kuat bukan dengan cara melemahkan orang lain tetapi  dengan cara mengkuatkan orang lain. Itu yang saya dapat tentang mem-bully.

9/13/2015

Hati Yang Lentur

Siapa yang tahu letaknya hati? Di jantungkah, di lever, di otak di serabut-serabut saraf. Saya tidak pernah belajar psikologi dan ilmu kedokteran ataupun ilmu kebatinan, jadi saya tidak tahu. Tetapi saya merasa hari ini menemukan kata-kata baru dengan hati. Eurika. Tanpa perlu  mengetahui letak hati.

Untuk sementara nyaman dalam menghadapi hidup. Hati yang lentur. Saya kira hati yang seperti batulah akan tahan  menghadapi cobaan. Oh tidak semakin   keras hati semakin besar penolakan terhadap masalah dan  hancur bila salah mensikapi. 

Pernah melihat kapten melar yang bisa memanjang? Seperti itukah hati kita bentuknya agar nyaman dalam masalah. Hati menjadi panjang. Sabar yang melar.  Ditimpuk masalah oke-oke saja. Selalu ada opsi dan siap menanggung akibatnya. 

Tidak ada yang remuk. Tidak ada putus asa. Selalu mencoba mencari jalan keluar. Kalaupun toh buntu bisa cari jalan lagi kan. Terus menerus hingga batas waktu  yang ditentukan  Allah. 

Lalu mengapa dipusingkan dengan penolakan, ejekan, dan candaan yang tidak kau terima. Untuk anakku yang sedang berjuang menegakkan benang basah. Coy, tahu tidak dikira kau batu karang, baja. Yoiii. Punya hati yang lentur saja ya nak, saat kau tidak bisa menerima sesuatu. Saat kau beradaptasi pada lingkungan yang baru. Kami selalu memelukmu dalam doa.

9/03/2015

Mengajak Berbuat Baik

Di rumah,  bada Ashar, terdengar suara kecil, lantang, penuh semangat  memanggil nama anak saya.
"Ayo kita ngaji." Sayang yang dipanggil lagi tidur. Jarang sekali ia tidur siang. 

Oh rupanya seminggu ini anak saya rajin berangkat ngaji karena ada yang mengajak.  Bocah laki-laki tujuh tahun itu sering meminta saya menyiapkan baju ngaji di meja, apabila bila saya pergi siang hari. 


Rasanya sejuk bila melihat iklim ini. Yup sejak kecil sudah mau mengingatkan pada kebaikan. Terima kasih teman adek.

Coba lihat apa yang terjadi pada orang dewasa  bukannya mengajak pada kebaikan, mengkritik membangun malah main hater-hateran. Hi hi bahasa apa itu. Tidak kenal sama seseorang, malah tidak pernah melakukan kesalahan pada hater tersebut. Eh bencinya minta ampun.

Pernah lihat di TV seorang artis sampai mau memejahijaukan karena urusan itu. Apa budaya kita sudah terkontaminasi dengan budaya lain ya. Sopan santun kita luntur.

8/29/2015

Ikhlas dalam Beradaptasi

Sebulan ini saya dipusingkan dengan masalah anak yang sulit dalam beradaptasi. Ia baru masuk pesantren. Padahal persiapannya sudah sejak kelas 3 SD. Ketika Abangnya masuk pesantren. Saya mengatakan padanya, Insya Allah ia akan masuk pesantren juga.

Abangnya yang introvert, pemalu, cenderung menyendiri, sensitif  ketika di SD,  sukses dalam proses adaptasi terhadap teman, guru dan ritme pembelajaran  yang ketat. Mengapa ia yang ekstrovert, cenderung cuek dengan perkataan orang lain, tidak gampang menangis, asik-asik saja diajak disiplin. Kok melorot mentalnya. 

Lama-kelamaan saya ikut larut dalam alur melo tersebut. Emosi saya naik turun. Sebenarnya siapa yang tidak siap. Anak atau Ummnya? Atau dua-duanya? Saya tahu anak adalah bentukkan keluarga, lingkungan dan karakter. 

6/21/2015

HAPPY DATE WITH LEGENDADDY

Saya percaya kedekatan seorang ayah dengan putera puterinya banyak berpengaruh pada perkembangan anak. Sejak kecil saya dekat dengan almarhum Abah, begitulah saya memanggil beliau. Usia saya sudah 45 tahun, sebagai perempuan meski tidak mandiri secara finansial dalam banyak hal saya mandiri dan berani. Ketika "duduk' di sekolah dasar, saya  naik sepeda jarak sekolah sekitar 2 KM. Jalanan tidak beraspal. Diajari pergi ke Bank sejak kelas 3 SD, mengirim surat melalui POS  dari kelas 2 SD.

Dasar kedekatan ketika balita membawa ke arah itu. Ketika ada undangan di Kumpulan Emak Blogger. Diskusi tentang Peran Ayah dalam mengoptimalkan Keceriaan Anak. Saya mau datang. Karena ada yang dikerjakan Abi anak-anak tidak bisa ikut serta. Akhirnya saya berdua saja dengan anak bungsu saya, Lazuardi. 

6/03/2015

Anak Ikut Mencari Nafkah

2 Juni 2015 sepulang acara Blogger Gathering MedicTrust di MidTown Tulodong Atas daerah SCBD, saya melewati jalan Durian. Ada pemandangan yang menohok.

2 anak berjalan bergandengan menembus malam. Anak laki-laki yang lebih besar membawa karung plastik besar. Karung itu tidak berukuran standar. Tampak sambungan dijahit dengan tali rapia.Tidak tahan, saya  menghentikan motor. Mencoba mengajak bicara mereka dan merogoh kantong. Sebenarnya dilema untuk memberikan sedikit rejeki itu, karena takutnya esok dan esoknya mereka menjadi tidak berhenti mencari sampah botol/memulung. Karena disela pekerjaan itu pasti ada saja yang iba.

Semestinya mereka tidak bekerja malam-malam dan berkeliling. Sangat riskan untuk tempat/jalan yang kadang sepi. Saat saya lewat sekitar pukul delapan malam, jalanan lengang karena hari libur.

Saya tahu mereka dalam posisi yang harus fight. Keadaan memaksa mereka untuk melakukan kegiatan ekonomi dengan umur masih muda dan waktu bekerja yang tidak umum.

Ya Allah, itukah bentuk Sabar, Syukur, dan Ikhlas mereka? Mudah-mudahan mendapatkan kehidupan yang lebih baik lagi. Bocah yang seharusnya belajar bukan bekerja. Luaskan rejeki orang tua qurrata 'ayun tersebut. 

Bila lelah dalam mencari rejeki. Bila ada keluh dalam hidup. Ingatlah  banyak orang di sekitar harus berjuang ekstra keras dalam kehidupannya, termasuk anak kecil ini.

6/01/2015

TEROMPET

Saat istirahat teman kerja saya, baca tentang terompet yang terdengar di langit suatu negara. Saya tidak menanggapi dengan serius. Eh ketika pulang Az cerita ia lihat di TV ada berita tentang suara terompet. Tidak berapa lama di salah satu  TV  menayangkan ada suara terompet di Bantul.

Lazua menyimak dengan seksama. Az komentar, "Umm, itu suara Sangkakala ya?"
"Ya, bukanlah."
"Apa sih itu Um?"
" Sangkakala adalah terompet yang ditiup sebelum hari Kiamat."
Duh, saya merasa bersalah. Lazua kan belum pernah diajak omong tentang Kiamat.
"Itu artinya orang Indonesia tidak boleh meniup terompet ya Umm? Nanti Kiamat."
Widiiih, pe er banget. Menerangkan hal ini sama Lazua.
"Tidaklah dek. Sangkakala itu hanya ditiup oleh malaikat Israfil." 
Lazua menatap Ummnya dengan sejuta tanya, sedang saya membayangkan kalau  tahun baru nanti ada pelarangan meniup terompet karena ditakutkan Kiamat. #Nyoba berpikir ala Lazua. 

4/20/2015

Ulek

Saya kira uleg bukan ulek.  Sudah sangat jarang tentu orang melakukan hal ini. Di rumah saya hampir tiap hari. Gegara saya tidak membeli/mengganti bagian blender yang rusak. Saya juga jarang membuat masakan dalam skala besar. Kalau perlu, membeli di pasar saja bawang merah atau putih yang sudah di kupas, kemudian minta digiling. Terus ditambah bumbu yang lain. Biasanya ditukang bumbu sudah ada bumbu halus. 

Saat akhir pekan biasanya saya meminta anak untuk ikut mengulek. Pagi-pagi saya sudah bagi tugas dengan anak-anak. Walau mereka laki-laki, bagi saya dapur bukan wilayah yang tabu untuk mereka.
Q saya suruh ngulek. Sedang Az kena bagian melipat kantong plastik yang sudah menggunung. Rupanya Az memilih mengulek.

Karena belum terbiasa, ia mengulek dengan cara badannya yang bergerak sedang tangannya diam. Yaa tidak terjadi apapun. Setelah diberi tahu. ia mulai bisa. Kini ia terlalu kencang. So, bikin mata berair karena gas dari bawang merah masuk ke hidung.

Apa yang ia lakukan menghadapi keadaan ini?

"Mulai menangis...mulai menangis." Ha ha ha ada saja nak kamu menetralisir keadaan tidak nyaman. Kami tertawa melihat tingkahnya. 

Ia memilih menyerah karena matanya sudah berair. Saya mencontohkan. Kata saya lakukan dengan pelan-pelan. Waktu kecil saya juga  juga tidak bisa. Terus berlatih akhirnya juga bisa. Lazua yang TK  saja pernah diajarkan mengulek di sekolahnya. Ada muatan positif dalam ulek mengulek. Ada koordinasi tangan dan mata. Ada sensitivitas, anak belajar kapan harus mengulek dengan kencang atau perlahan. Anak juga belajar  menggenggam batu ulek. Kegiatan ini juga mengakrabkan orang tua, dan membuat ia break sebentar untuk kegiatan gadget akhir pekannya. 

4/19/2015

Belajar Geometri Sederhana

Saya merapikan meja makan usai anak-anak makan siang. Pyrex glass tempat macaroni panggang tidak muat dengan tudung saji. Dengan matematika sederhana saya memposisikan tempat tersebut secara diagonal. Ukuran  diagonal lebih panjang dari lebar tudung saji.

Timbul pikiran untuk menanyakan pada anak-anak. Mereka tidak melihat yang saya lakukan.
"Kalau tempat makaroni  tidak muat ditutup tudung saji. Apa yang kalian lakukan?"
"Habiskan." Dengan polosnya mereka menjawab.

Sebuah jawaban diluar dugaan. Iya juga sih daripada sulit-sulit. Tetapi maksud saya bukan itu. 


4/03/2015

Segitiga unik Scientia Square Park (SQP), Summarecon Digital Center (SDC), dan Food Truck Festival

Kami berangkat dari rumah pukul  06.00 lewat.  28 Maret 2015 bagi anak saya nomor dua adalah hari bersejarah karena ia test saringan masuk Mahad Rahmaniyah daerah Cilodong Kostrad Cibinong. Rangkaian test selesai sekitar pukul 11.00.

Setelah test saya berencana mengajak anak-anak ke Sumarecon Mall Serpong. Hari ini ijin keluar dari Ab yang sedang tugas di Marunda adalah harus mengajak anak-anak atau tidak boleh berangkat. Saya memilih mengajak anak-anak. 

Pikir saya undangan Bloggernya di tempat itu. Saya baca berulang undanganya di Facebook. Tidak tahunya Di Summarecon Digital Center. Driver cabutan kami, tahu daerah ini karena sering mengantar anak tetangga yang bekerja daerah sini.

Dari Cibinong rutenya jalan Raya Bogor kemudian masuk tol dekat Pasar Rebo selanjutnya keluar pintu tol Serpong. Tugas saya memandu berkurang. Biasanya saya menggunakan handphone  sebagai GPS. Zaman dahulu, kesannya jadul  sekali. Saya menggunakan peta yang tebal untuk mencari suatu alamat. Itu terjadi tahun 2000-an. Berterimakasihlah pada teknologi. Sekarang dengan handphone saja orang bisa mengerjakan apa saja.

3/01/2015

Ngomel dengan Nyanyian

Hampir 3 bulan Mpok tersayang kami resign. Betapa addict kami terhadapnya. Karena 6 tahun bersama kami. Ketika ia farewell, Umm menangis bombay. Sanggupkah Umm tanpanya. Sambil bercucuran airmata (lebai tingkat dewa), "Bila Umm mengibarkan bendera putih, bersediakah Mpok datang?"
"Jawabnya, Umm pasti sanggup."

Walhasil rumah tidak pernah rapi. Bawaannya ingin ngomel terus dan mulai sering bertanduk (memang kerbau).  Lama kelamaan kasiannya juga anak-anak. Nah ketika suatu sore ada anak yang malas mandi. Umm nyanyi lagu Meghan Trainor All About that Bass.  Hanya reff saja, liriknya ada yang diganti.

"Because you know I'm all about that bass. 'Bout that bass, no treble. Ayo nak (sebut nama anak) mandi! Ayoo yo mandi."

Dengan cepat ia mandi. Horee tanpa nyanyi dengan tanda petik, bernada tinggi. Umm berhasil direct anak. Senang sekaligus malu. Ia mau cepat mandi karena tidak mau mendengar Umm nyanyi. Senyum malu. Tutup wajah dengan kipas.

Berikutnya ketika yang lainnya malas-malasan mandi, Umm ancang-ancang mau nyanyi. Dengan segera mereka ke kamar mandi.


Cari di Google

"Nak, carikan cara menghapus cache dan cookies di IPOD."
"Ya, Umm."
Dengan cepat sang anak sudah menemukan caranya.
Dilain waktu.
"Nak, carikan resep bakso ikan."
"Resepnya menggunakan tepung tapioka bla bla Umm."
Dengan lincah Umm menyiapkan bahan dan mulai mengerjakan. Caranya sudah sesuai dengan yang diinternet. Tetapi kok tidak mau dibentuk, lumer. Akhirnya ditambahkan tepung terigu maka jadilah mpek-mpek. Selidik punya selidik ternyata tepung yang saya gunakan adalah tepung sagu. Padahal yang diperlukan tapioka. Walah. Bukan salah Google.
Tetapi tidak jera tanya Google.
"Nak. Coba cari kemoceng Umm yang terselip!"
Sang anak bengong.

12/25/2014

KEPO

Lazua: "Umm aku ingin tahu  artinya kepo."
Saya menjelaskan dengan seksama, "Artinya ingin tahu." Tanpa tanda tanya.
Lazua: "Iya aku ingin tahu banget."
Saya tertawa.
Lazua: " Abang Az juga tertawa ketika aku nanya arti kepo." Wajahnya menyimpan kebingungan.
Ha ha ha sama saja model pertanyaan jaman dahulu what itu artinya apa. Satu jam juga tidak selesai.
Kalau Az ditanya temannya, " I don't know artinya apa?"
"Saya tidak tahu."
"Katanya pinter Bahasa Inggris."