11/10/2014

EKOMURAL DI SEKOLAH TETUM BUNAYA

Eko adalah [peduli] lingkungan. Mural bermakna cara menggambar atau melukis di dinding. Mural berasal dari kata latin murus yang berarti dinding. Sudah ada sejak jaman dahulu. Misalnya di Mesir yang terdapat di dinding piramida. Lukisan di gua-gua. Zaman pra sejarah yang belum mengenal huruf. 
Dok Pri
Dok Pri
Suatu hal yang baru. Istilah ini saya kenal dari sekolah Lazua, anak ketiga. Tanggal 23 Oktober 2014 orang tua murid kelas Antariksa baik Bulan atau Bintang diundang untuk melihat hasil karya anak-anak yang sudah terlukis di dinding sekolah. Mengapa Ekomural? Semester ini di sekolah Tetum, isu yang sengaja diangkat adalah Aku Pejuang Lingkungan. 


Sekolah ini sangat menghargai karya anak dan kenyamanan anak dalam berekspresi. Tidak tanggung-tanggung bekerja sama dengan kak Guntur Wibowo dosen IKJ (TIM jalan Cikini 73). Kak Endah, pemilik sekolah dan penggagas ide ini, bercerita sebelum karya anak terpajang di dinding sekolah melalui proses panjang. 

Beberapa bulan sebelumnya guru-guru di sekolah Tetum dikenalkan terlebih dahulu. Karena untuk unit Kelompok Bermain mereka lebih nyaman mengerjakan sesuatu dengan guru. Murid KB menggunakan jari mereka/ finger painting. Unit ini diwakili kelas Laut (usia 3-4 tahun)

Untuk TK diwakili Antariksa (TK B) menggunakan jempol thumb painting, temanya alam. Mereka dibagi dalam beberapa kelompok. Ada kelompok yang menggambar bunga, hewan, dan kendaraan. Dalam acara ini orang tua berkesempatan melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan anak beberapa waktu lalu. Seru. Mencelupkan jempol di cat yang aman untuk anak. Kemudian jiplak ke kertas kecil. Tidak semudah dikira, agar sidik jari terlihat dengan jelas. Tentu saja itu bukan acuan. Anak-anak boleh tidak terlihat sidik jarinya.

Dok Pri

Ada sesi tanya jawab tentang mural, oleh orang tua atau anak-anak. Antara lain:

- Bagaimana gambar kecil bisa menjadi besar di dinding? begitu pertanyaan seorang gadis cilik.
Jawabannya adalah gambar di tembakkan ke dinding menggunakan proyektor. Kemudian Kak Guntur dan teman-teman  (La Ode, Joshua, Riza, Sinyo ) melukis di dinding. Mereka bekerja dari sore hingga malam.

- Apa kesulitan melukis ulang karya anak-anak? 
Kesulitannya adalah harus membuat persis seperti yang dimiliki anak-anak. Misalnya ada hasil kuas yang kurang sempurna. Iya juga ya, mereka yang piawai melukis, menguasai teorinya pula. Biasa pegang kuas dan menghasil goresan sempurna.

Kami juga diajak ke unit SD, melihat lukisan di dinding sekolah. Lukisan itu kepunyaan kelas Jupiter dan lukisan taman kota yang diadaptasi dari kreasi murid Mars. Mereka membuat taman kota dari bahan-bahan seperti kardus,  clay, dan lain-lain. Sekolah ini mempunyai bank daur ulang yang sudah diklasifikasi. Misal kotak minuman, plastik, bahkan plastik pembungkus buahpun bisa menjadi karya.

Sisi lain ada peta hijau tertuang di dinding area ampiteater. Peta hijau merupakan masterpiece dari kelas Bumi dan Jupiter. Murid kelas Bumi mencap daun di kertas. Daun itu diperoleh dari sekitar sekolah. Kelas Jupiter melakukan finishing dengan melukis sekolah dan menempel daun-daun itu sesuai tempatnya.
Dok Pri
Menikmati daun-daun yang diberi warna-warni saja mulut saya ternganga. Mungkin terlalu lebay. Memang seperti itu adanya. Coba  petik daun masih segar agar bila sudah mengering tidak mengkerut (kalau satu atau dua tidak merusak lingkungankan?) Warnai dengan cat tembok, cat air atau akrilik. Pilih warna pastel kalau suka. Satu daun bisa diwarnai dua, tiga warna. Bebas warna analog, komplementer, split komplementer,  atau warna triad. Kalau untuk warna akromatik dan kromatik sepertinya kurang pas.

Apalagi sudah tertuang menjadi mural. Daun-daun itu wow. Kakak melukis dengan natural. Ada sapuan kuas khas anak-anak. Ada warna yang berbeda satu tingkat. Juga diikuti. Cat tembok yang digunakan adalah Dulux karena ramah anak-anak. Warnanya juga lembut.

Terakhir kembali ke lokal TK.  Orang tua menuliskan pesan di sebuah kertas kemudian digantung di ranting. Sebuah warna kearifan menyentuh otak kanan dan kiri. Begitu nyaman menyesap ilmu seperti demikian.  Terlebih anak-anak kelak ia mencintai lingkungan. Bila kemudian ia harus tumbuh dalam lingkungan grafiti. Ia akan ingat tulisan itu beratas nama ramah dan santun. Syukur meningkat ke mural yang mengajak pada kebaikan.
.



2 comments:

  1. Sekolahnya Lazua qy sekolah alam gitu yah mak...?

    keren ihhh nama-nama kelasnya, ada kelas bumi, jufiter.

    ReplyDelete
  2. Iya Mak Ia Alginat. Sekolah ramah lingkungan dan tentu ramah anak..

    ReplyDelete