8/10/2014

Prasarana Mudik 2014


Mudik setelah orang balik lagi ke Jakarta. Itu pilihan yang tepat karena moda transportasi kosong. Namun nilai silaturahim jadi berkurang. Karena orang-orang sudah tidak ada di kampung. Lalu maknanya masih adakah?

Oleh karena itu pemerintah Indonesia dalam hal ini kementerian Pekerjaan Umum menyiapkan kue kewajiban jauh dari saat lebaran tiba. Walau ditengah tuduhan kementerian sengaja menjadikan proyek ini proyek abadi atau untuk THR Tampaknya seperti itu, misalnya untuk jalur Pantura. Jalur itu beritanya sepanjang tahun diperbaiki terus menerus. Padahal panjang Pantura itu sangat panjang yaitu 1.316 km. Hampir tidak pernah dilakukan perbaikan pada satu titik.



Menjalani jalan Pantura saat mudik hanya satu kali (tahun 1999). Saat anak pertama saya baru berumur 3 bulan kami tidak berani naik pesawat. Pilihan kami adalah moda laut. Terdekat dari Jakarta adalah Semarang untuk menyebrang ke Kalimantan Selatan.  Kondisi Pantura saat itu tidak sepadat sekarang.

Tahun ini saya dan keluarga  tidak pulang. Karena butuh biaya yang tidak sedikit untuk pulang bersama-sama. Moda udara biasanya pilihan kami. Saya sendiri sudah beberapa kali pulang kampung sebelum Ramadhan disebabkan ada keluarga yang menikah.

Nah rupanya tahun ini walau saya tidak mempunyai keluarga inti (di luar Jakarta) saya berkesempatan pulang kampung ke tempat teman saya, yaitu kota Cirebon. Saya menghadiri pernikahannya. Moda yang dipilih adalah kereta api. Kata teman saya naik kereta api tidak sampai 3 jam.

Sudah lama tidak naik kereta api dengan tujuan luar kota (terakhir 2002) membuat saya harus mencari tahu tips naik kereta api. Untung saja beberapa pekan lalu saya menghadiri acara Ngobrol, Ngopi bareng Rol, Kementerian PU dan Blogger. Pada acara tersebut diluncurkan microsite Ayomudik dan jingle Mudik-PUlang kampung.


Tips kereta api yang saya  dapat dari microsite adalah 


Tanggal 5 Agustus saya berangkat pagi dari rumah. Perjalanan lancar karena anak-anak sekolah belum masuk. Lebih baik menunggu daripada terlambat. Surprise-nya ada jingle mudik pada iklan video di ruang tunggu stasiun Gambir.


Kereta terlambat sekitar 45 menit. Selanjutnya  perjalanan lancar, setiap persimpangan saya amati apakah arus balik masih terlihat? Tidak terlihat antrian panjang. Rupanya Malam Minggu kemaren memang puncak arus balik. Orang-orang kebanyakan sudah harus pergi ke kantor hari Senin (4 Agustus 2014). Sempat beberapa menit tersendat karena ada perbaikan rel tampaknya. Saya sempat memfoto kondisi rel dari stasiun Gambir hingga Stasiun Cirebon termasuk foto jembatan dan rel ganda yang baru selesai (kalau tidak salah). Rel Ganda ini meminimalisir  keterlambatan kereta. Zaman dulu kereta terlambat sudah biasa. Kalau sekarang pasti ada sesuatu yang luar biasa terjadi.




Dari pertemuan Ngobrol dan dari infografis microsite Ayomudik wawasan saya bertambah ada jalan Nasional yang dikelola oleh Kementerian PU dan ada jalan propinsi serta jalan kabupaten. Penasaran saya ingin mengetahui  situasi  jalan Nasional yang melintas di Cirebon. Masih terlihat lalu lintas yang padat walau tidak macet.


Khas pemudik barang diletakkan di belakang

Mencoba menjadi pemudik yang menunggu bus Antar Kota

Kondisi jalan Nasional di Cirebon

Masih ada beberapa pemudik





Microsite Ayomudik.com juga menyediakan Peta Mudik berisikan sarana jalan yang disediakan oleh Kementerian PU.  Seperti screenshoot saya berikut ini. Untuk pengendara mobil dengan satu web yaitu Ayomudik.com dapat banyak hal yang didapat rute, daerah rawan macet, rawan longsor, rawan banjir, kesiapan jalan, rest area dan daerah alat berat. Untuk handphone saya akses ke web ini juga tidak berat. Dengan cepat terbuka.

 

Saya juga mencoba untuk rute Banjarmasin-Banjarbaru sayang belum ada informasi rawan macet dan lain-lain seperti daerah Pantura. 




Penasaran saya juga mencek daerah Sumatera untuk ini saya mengambil sample rute Lampung Palembang. Informasi seperti Pantura juga ada.


Ada hal yang menarik pada microsite ini yaitu kolom Berita Terkini, sayang updatenya terhenti hingga tanggal 24 Juli 2014. Termasuk berita tentang dibuka kembali jembatan Comal. Saya sempat mengobrol dengan ibu teman anak saya. Beliau tidak jadi pulang ke Solo karena harga tiket Bus menjadi  Rp500.000. Harga tersebut dipatok karena bus harus memutar ke Bandung. Bisa seperti itu? 


Kondisi jalan Pantura/Jalan Nasional hanya diperuntukan untuk kendaraan bermuatan 10 ton apabila melebihi dari itu maka jalanan akan cepat rusak. 




Penilaian kinerja suatu instansi cenderung seperti nila setitik rusak susu sebelanga.  Padahal banyak  pencapaian yang diperoleh Kementerian PU untuk negara ini.





Balik lagi cerita tentang Cirebon. Saya pulang ke Jakarta kembali menggunakan jasa kereta api. Rupanya orang berpikir yang sama. Banyak balita dan anak dalam gerbong yang saya tumpangi. Begitu turun di Jatinegara  dari kereta api yang lain juga banyak turun penumpang dengan membawa buah hati. Betul sekali apabila membawa mereka daripada berdesak-desakan lebih baik mundur atau maju beberapa hari dari perkiraan arus puncak. 



Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba Blog Ngobrol dengan tema Mudik 2014.


No comments:

Post a Comment