Showing posts with label Belajar Menulis. Show all posts
Showing posts with label Belajar Menulis. Show all posts

8/25/2013

Menulis Membuat Sabar

Setahun yang lalu ketika saya sangat suka ikut lomba. Sangat sering menangis karena ada-ada saja halangan dan kendala. Paling besar adalah pada diri sendiri. Selain kemampuan secara teknis juga manajemen diri dan waktu. Tantangan dari luar diri sebenarnya bisa disiasati. Kalau bisa mengatur diri dan waktu, hal itu bisa diatasi.

Sekarang sangat jarang ikut lomba, tetapi menulis di blog tetap dilakukan. Kata-kata yang membekas diingatan dari Asma Nadia, Helvy Tiana Rossa, Ima Zahra, Fita Cakra, Hayya Zakki, Bagaimana bisa menulis? Ya menulis terus. Terus dan terus. Walau kendala banyak, tetap terus dijalani. Hadapi dengan sabar. 

Menulis membuat saya lebih sabar dan mengenali kelemahan diri. Termasuk efek dari menulis. Tanggapan orang. Sabar yang bertenaga dan ikhlas menerima apapun. 

8/07/2013

Peran Orangtua mengatasi Trend Mobile Internet terhadap perkembangan anak


Hahaha gara-gara salah melihat tanggal deadline lomba. Ternyata lombanya berakhir tanggal 5/8 2013 bukan 8/8 2013. Gubrak. Sudah minum kopi supaya gak ketiduran. Sudah sengaja masak dari sahur supaya tengah hari sudah kelar soto banjar dan teman-temannya. Bekerja pada  last minute memang tidak baik. Semoga catatan ini menjadi pengingat untuk bersegera mengerjakan sesuatu. Edisi getun banget-banget. 

Harus banyak belajar menggunakan waktu sebaik-baiknya dan harus segera dikerjakan bila niat mengikuti lomba. Anyway sayang sudah ditulis kalau hanya untuk disimpan. Barangkali bermanfaat bagi orang lain atau malah ada masukkan.


***
Sengaja membatalkan jalan-jalan ke Ciater dengan teman liqo karena pertama pagi kerja dan yang kedua ingin menghadiri acara yang diselenggarakan Dari Perempuan dan Mentari Indosat. Temanya menarik, Dampak Trend Mobile Internet Pada Anak.  Beberapa waktu lalu saya menulis di blog http://37mw.blogspot.com/2013/06/balsem.html, pada ujung cerita saya menulis tentang anak saya yang kecanduan gadget.

Memang kami sekarang  berlangganan mobile internet namun terbatas untuk membuka BBM, WhatsApp . Kami juga menggunakan internet kabel  di rumah.  Namun anak-anak masih belum tertarik dengan sosial media. Jadi kalau jalan-jalan mereka tidak memegang gadget karena tidak bisa game online.

Acara

Agak terlambat saya datang.  Untung saja  jalan Gandaria Kebayoran Baru bukan tempat yang asing bagi saya. Tahun 1998 saya pernah bekerja di daerah ini. Dulu sih belum ada 1/15 coffe .Untung saja  (dah dua kali menyebut kata ini) acara inti belum dimulai.

Ada game simulasi. Anak memegang gadget kemudian peserta yang ikut merayu sang adik. Jadi ingat anak-anak di rumah. Emang kudu  punya waktu untuk anak, agar mereka tidak memegang gadget.  Harus punya alternatif permainan yang menarik. Not reason, sesibuk apapun orang tua harus mendampingi anak agar tak tergantung dengan gadget (sedang menasihati diri sendiri).

Ani Berta Dari Perempuan memulai acara yang penting diketahui oleh orang tua ini.  Sita Laksmi, pembicara pertama, mengutip survei dari UNICEF 2012,  penggunaan PC sangat rendah dibandingkan teknologi mobile dan social networking (http://goo.gl/h4g393).

Tips dari Ibu Sita,

  •  Dari awal ajarkan anak-anak hal positif dalam penggunaan internet.

  •  Sebaiknya berteman dengan anak.


  •  Tanamkan! Gadget adalah barang mewah bagi anak  bukan hak mereka untuk memiliki.

  •  Beri batasan waktu hari biasa hanya boleh dua jam sedangkan  hari libur boleh tiga jam (sesuatu yang masih sulit diterapkan pada anak-anak saya, harus duduk bersama dengan mereka agar Ummnya juga tidak berlebihan).

  •  Perkuat konsep diri bukan pada kulitnya. Apa yang di kontribusikan anak-anak pada lingkungan? Siang tadi saya sambil mempersiapkan hidangan Idul Fitri berbincang pada anak pertama. Ia sekolah di pesantren, ketika liburan, kadang ia larut dengan gadget. Kesempatan mempraktekkan ilmu yang saya dapat dari Bu Sita. “Qowi, kalau kamu lebih banyak main game itu artinya waktumu tidak produktif.  Suatu saat kamu akan menyadari hidup lebih bermakna pabila  dapat berbagi dengan orang sekitar. Itu nilai-nilai keshalehan nak. Qur’an dan hadis bukan sekadar kau hapal. Harus kau implementasikan dalam kesaharian."

  • Konsisten. Saya sadar belum bisa konsisten menerapkan aturan pada anak-anak. Sebaiknya ada peraturan tertulis agar anak-anak bisa membaca dan mengingatnya, termasuk saya.

  •   Pemilihan gadget berdasarkan fungsi. Jangan sampai diri kita ter-drive oleh teknologi.



Pembicara kedua adalah Elga Yulwardian, Department Head Digital Media Partnership & Activation – Indosat, Tbk. 

Bertajuk Gadget & Z Generation Kids, Elga memaparkan baik atau buruk sebenarnya gadget? Bila makhluk dewasa dapat mengarahkan anak untuk hal yang baik maka positif. Misalnya  menggunakan gadget untuk membantu anak memperdalam pelajaran di sekolah. Kita, sebagai orang tua harus memperhatikan konten situs yang dibuka anak. Kalau perlu carikan aplikasi sesuai PR anak.


Sebulan telah berlalu. Banyak hal yang saya dapat setelah mengikuti talk show tersebut. Anak-anak mulai beralih ke PC kembali. Namun masih perlu waktu untuk memberi pemahaman pada mereka mouse ditangan mereka. Jangan sampai hal negatif yang mereka peroleh dalam berinteraksi dengan gawai/acing/gadget.

Teringat dua bulan yang lalu ketika saya memperoleh hadiah dari Nestle anak-anak  senang karena sebelumnya mereka belum punya gadget. Mereka sempat nyandu  sampai-sampai berkelahi berebut benda tersebut. Abinya melihat hal tersebut membelikan Tab, agar tidak bersitegang mulu. Duh Ummi dan Abi salah jurusan nih. Orang-orang sedang berkutat agar anak tak bergantung. Eh ini ??? Sadar-sadarnya ketika bertemu pimpinan sekolah Lazua, Ibu Endah dengan nada berseloroh, gadget haram storytelling yes.  Dongeng membuat bounding dengan anak.

“Ummi, bacakan aku buku cerita dong!” pinta Lazua beberapa hari yang lalu. Ketika Umm sedang sibuk mempersiapkan yang berkaitan dengan Idul Fitri. Maafkan nak, kadang Ummi lupa kembali fitrah itu artinya tak melupakanmu sebagai amanah. Suatu saat nanti Ummi ditanya. Kau telah dipoles apa saja oleh Ummi. Sudahkah Ummi mendidik anak sesuai dengan zamannya.



2/02/2013

Penulisan Kata

Akherat seharusnya akhirat
Diterjen    > detergen
Jarrah      > zarah
Kwadrat  > kuadrat
Mubajir    > mubazir
Mulya      > mulia
Praktek   > praktik
Mesjid    > masjid
Zaman     > jaman

Dari Mak Hayya Zaki
Terimakasih yang benar terima kasih
Nara sumber > narasumber

11/23/2012

Indonesia Book Fair


IBF dan Nurul F. Huda

           Di gedung yang sama, Gelora bung Karno, sekitar 10 tahun silam, aku berdiri menyimak dengan seksama seorang perempuan dengan semangat menjelaskan isi bukunya. Lamat-lamat ingatan membentuk bayangan seorang gadis dengan jubah  dan jilbab lebar sering duduk di samping saat aku mengulang mata kuliah.
          Nurul F. Huda begitu yang tertulis di novelnya Hati yang Pualam. Zaman kuliah aku tak mengetahui  tulisannya sering  dimuat majalah Ummi dan sering sakit. Rupanya kakak kelasnya ini tak begitu care dengan sekitar. Ingatanku tentang wajah juga lemah. Jadi masih belum konek ketika bertemu di IBF waktu itu.
          5 tahun setelah memasang toga tak pernah bertemu dan berkirim kabar. Tahun 2010,  aku menemukannya di deretan teman alumni Facebook. Beberapakali saling menyapa. Tahun 2011 masih muda untuk  hitungan sebuah umur. Ia pergi. Hik. Belum sempat menggali pengetahuan padanya.

IBF 2012

Launching Novel KKC dan Bulan Terbelah

            Beberapa hari lalu aku merencanakan untuk menghadiri launching buku Fita Cakra dan Wylvera, Kue-kue Cinta. Nasihat Asma Nadia untuk penulis pemula sering-seringlah menghadiri peluncuran sebuah buku. 21 November 2012 alert di HPku mengingatkan.
    Kemaren sudah minta ijin sama Abi, mataku berterimakasih atas ijinnya. Hampir jam 3 langit Jakarta mulai muram,  raga tak memperdulikan karena sudah niat. Badaipun akan ku tempuh. Dua kali mengenakan jas hujan di Kampung kandang dan Blok M karena hujan yang tak merata. Mbonek. Mbok nekat.
         Jam 4 lewat motor menyentuh pelataran parkir. Lengang. Beberapa kali ke Book Fair   Saptu dan Ahad selalu penuh. Bagi yang tak suka berdesak-desakan pilihlah hari selain itu. Baru kali ini aku leluasa berjalan dan mampir setiap booth.
            Sebelum berkeliling aku duduk di stand Penerbitan Pelangi Indonesia, memenuhi udara pikiran dengan buku yang baru lahir, Kue-kue Cinta.  Setting di Indonesia dan Malaysia. Suatu gagasan yang bagus atas prakasa  Bapak Haji Seman dan MRS Wong Mei-Mei untuk menggaet penulis Indonesia dalam penerbitan Malaysia. Percampuran dua budaya dari satu akar.

            Duet Fita dan Wylvera dalam menjawab pertanyaan hadirin cukup kompak sekompak mereka membuat novel tersebut. Dalam waktu 3 minggu mereka merampungkan KKC disemangati suhu mereka di Galeri Kelas  Ajaib pak Benny Rhamdani dan karena sudah berjodoh gaya penulisan gampang saja dipadukan.

Fita dan Wylvera pernah ke Malaysia, suasana sudah terekam sehingga memudahkan dalam menuangkannya dalam KKC.  Penulisan  karakter remaja juga tak terlalu mengalami kesulitan karena anak Wylvera ada yang remaja dan juga penulis. Kalau masalah bahasa walau emak-emak yang menulis tetap nyambung dengan ABG sekarang.
Acara yang dipadu Indah Julianti dengan hangat, hampir 1 jam tak terasa. Kemudian dilanjutkan dengan kelahiran novel Rembulan Terbelah oleh Dian Meliantari  masih bergenre remaja. Novel ini dwilogi. So akhir pertamanya masih menggantung.
Suatu hal membuat aku antusias setiap acara launching adalah bagi-bagi hadiah buku, tentu saja bukan tujuan utama. Kali ini aku mendapat dua buku dari Penerbitan Pelangi Indonesia.

Lengang

Kembali cerita mengeliling stand. Nyaman, itu yang kurasakan karena tak perlu berdesakan dengan pengunjung lain. Namun tentu tak begitu dengan pemilik stand. Sedih ketika penjaga salah satu stand bercerita tak hanya di IBF di hari biasa (bukan Saptu Minggu) di mall demikian juga. Ada beberapa lahan untuk toko buku beralih fungsi menjadi gerai pakaian.
Tak ada data yang pasti kutemukan berapa jumlah pembaca di Indonesia. Namun dilihat dari pengemar kuliner dan fashion dengan harga yang aduhai bisa mengelus dada. Harga buku di IBF 2012 mulai dari Rp 5000. Harga yang cukup terjangkau lebih murah dari harga semangkok bakso. Hasil dari mengkonsumsi buku dapat digunakan dalam jangka lama. Semoga penggemar buku di Indonesia dari tahun ke tahun makin meningkat. Baik buku berbahan kertas ataupun E book. Aamiin.
Oh ya masih keburu berburu buku-buku murah namun berkualitas hingga tanggal 25 November 2012 di Gelora Bung Karno. Acaranya masih banyak:





11/13/2012

Guru Merah Putih


Ikut lomba bagiku sebuah tantangan, terutama manajemen waktu. Walau tak bekerja dan ketersediaan waktu yang banyak belum tentu bisa menyelesaikan sebuah tulisan sesuai target. Barangkali kecepatan dan kemampuan  aku mengolah sebuah tulisan juga menjadi sebuah sebab serta menerobos dinding 'minder' yang naik turun.

Tulisan berikut gagal di kirim namun sayang disimpan.
Tak tahu entah ada hubungan atau tidak. Pagi tulisan di upload, sorenya beliau pergi menghadapNya terlebih dahulu. Dalam kenangan bu Suyati/bu Sis.


Guru Merah Putih

               
Kini aku memang bukan siapa-siapa. Namun itu bukan indikasi ketidakberhasilan guruku dalam mendidik.  Karena keberhasilan seseorang relatif.  Menurutku guru-guru saat aku berpakaian merah putih adalah pahlawan dalam hidupku.
           Antara tahun 1977-1983, aku mengecap banyak hal-hal yang mendasar .  Bersekolah pada zaman itu tak merisaukan kualitas guru,  kualitas kurikulum serta kualitas infrastruktur .  Namun aku merasakan guru-guru sangat berdedikasi untuk kemajuan murid. Pada saat itu barangkali tak banyak teori pendidikan.  Namun guru-guru mendidik kami mempunyai akhlak mulia dan berkarakter.

           Banyak teman-teman dengan bertelanjang kaki ke sekolah tetap semangat.  Tak punya payung ketika hujan mereka menggunakan daun-daun pisang. Mengapa mereka semangat sekolah?  Tentu bukan masalah absen.  Ketika seorang murid enggan bolos berarti sekolah itu berhasil menanamkan cinta belajar. Tentu peran guru sangat besar. 
         Tak ada kurikulum CBSA, namun siswa sudah  diajarkan demikian, walau di kelas sistem satu arah namun diluar jam sekolah murid berkesempatan berdiskusi dengan teman dan guru.  Pelajaran tak hanya teori belaka namun diimplementasikan seperti setiap saptu hari gotong royong, berkebun, belajar memasak yang benar-benar dilakukan di sekolah, berkemah, ekstra kurikuler, seperti silat, rebana, menari, karawitan, pramuka.  Cinta buku benar-benar tercipta dengan sendirinya. Ruangan perpustakaan ada dalam ruang guru karena keterbatasan  lokal, tak menghalangi murid untuk membaca. Sebab kami boleh membawa ke dalam kelas dan membawa pulang. Guru/pengelola perpustakaan tak khawatir buku tak kembali atau tak dikembalikan tepat waktu karena mereka percaya,  kami  jujur dan disiplin. 

Potensi

Banyak murid yang tak berani menegakkan kepala karena merasa tak mampu. Guru mengangkat kepala itu agar bisa menatap masa depan. Tak ada murid yang bodoh bagi guru yang baik. Karena ia memahami setiap muridnya memiliki intan. Guru menolong   murid menemukan intan yang masih tersimpan. Gurulah  yang mengajari anak didik menemukan potensinya. Banyak lomba yang kami ikuti sesuai kemampuan masing-masing. Setiap tahun ada porseni, semua murid dilibatkan, yang berbakat olah raga diikutkan perlombaan dan pertandingan olah raga. Berbakat seni, dilibatkan dalam pentas seni. Even lainnya untuk anak-anak yang berbakat dalam pelajaran tertentu juga didorong untuk percaya diri dan meningkatkan kemampuan.

Kreatif

Ketrampilan seperti mengolah koran bekas menjadi hiasan, membuat asbak dari tanah liat, membuat kemoceng dari rapia dan bulu ayam. Hal itu sering dikerjakan di sekolah. Juga membuat taplak meja untuk meja guru. Membuat penghapus dari kain sehingga sekolah tak perlu membeli penghapus.
Semua guru adalah pahlawan bagi muridnya. Karena mereka yang membangun  jembatan untuk anak didiknya  dari ketidaktahuan menjadi tahu. Dari ketidakmengertian menjadi mengerti.  Banyak orang yang bisa melompat karena terngiang-ngiang kata-kata gurunya. Seorang guru berhasil apabila kemudian sang murid berhasil membangun jembatan kembali untuk orang lain. Ilmu yang menyambung dan terus mengalir walau ia tidak bisa lagi membangun jembatan.



9/24/2012

Modal Menulis

    Malesi, ini kata milik Adam, anak penulis Asma Nadia, artinya kalau tak salah,  seseorang bikin malas orang lain atau iih bikin males aja, atau malas lihat mukanya. Deee ini mah terjemahan bebas dari saya. Entahlah sudah benar belum penempatan dalam kata. Berharap ada yang membenarkan. 
     Pagi ini kalau orang lihat aku pasti berkata malesi. Lha wong sudah dapat suntikan ilmu dan semangat kok masih saja tak berlari dalam menulis. Plak. wajah malesi ini tertampar. Pagi-pagi peluk Lazua yang masih memeluk mimpi, akhirnya ikutan bablas. Yaa kalau tak mau dikatakan orang malesi, ayo menularkan semangat dan mulai mengatakan pada diri bahwa menulis itu harus bukan hobi.
     Saya dapat kata malesi dari Ibu Adam hari Saptu dan Ahad kemaren,  penulis pemula ini mengikuti workshop menulis di Margoda, Depok. Penulis handal tersebut banyak menularkan tip trik menulis dan semangat menulis. Berikut ini modal menulis:
  1. Niat yang teguh
  2. Latihan disiplin
  3. Siapkan alat untuk mencatat, notes, Word di HP, dan lain-lain
  4. Catat tiap ide
  5. lengkapi referensi
  6. Target
  7. Action
  8. Berkumpul dengan komunitas menulis
  9. Hadiri acara launching buku
  10. Beli buku best seller, buku peraih nobel, pelajari buku mereka.
     Tentu saja ini hanya sebagian kecil ilmu yang dibagikan penulis cantik itu. So, ikut workshop baik online atau didarat itu penting untuk membuka wawasan atau kalau tak mau ikut workshop banyak artikel belajar menulis di internet.

9/13/2012

KELUAR DARI TEMPURUNG


      Menulis itu seperti kodok keluar dari tempurung. Bayangkan saja kalau menulis tanpa membuka mata dan berjalan-jalan entah jalan beneran atau cuma jalan-jalan mata, baca buku, baca majalah, lihat TV, baca blog orang. Zaman baheula kalau marahi anak, khodimat, atau memberi komentar terhadap yang dilihat, didengar ya ampyuun seolah-olah kodok dalam tempurung. Diriku saja yang paling hebat. Pakai cermin sendiri soalnya. Padahal diluar tempurung banyak orang hebat. Karena membaca segalanya akhirnya mengubah pikiran yang cupet jadi jembar. Kalau dinasehati orang jadi lebih mengerti.

7/13/2012

Minder

Duh macet lagi nih menulis. Baca ketika Mas Gagah Pergi diriku malah menciut. Haduh aku bukan apa-apa dibanding HTR. Ayolah pede bu. Ingat cerita HTR yang berjuang berpuluh-puluh tahun sebelumnya.
Walau umur sama tapi dia pengalamannya jauh lebih dewasa. Glek naga-naganya gak pede lagi nih.
Colok mata sendiri (sadis banget, niru srimulat, duh duh).
Tak ada kata lain selain terus menulis. Walau hati menangis dan berdarah-darah karena menerjang minder.
Tak ada kata lain selain berenang terus berenang hingga betul-betul bisa bertahan dan kuat berenang.  Walau berenang di airmata. Menyadari diri belum mampu-mampu juga .
Harus diterjang harus dirubuhkan walau minder itu terus muncul.
Huuu aku gak bisa.
Bisa.
Bayangan Asma Nadia, Helvy Tiana Rosa, Pipit Senja, Fita, Ima, Tere Liye   komunitas IIDN , PBA, blog Pesantren Penulis dan penulis-penulis lainnya  berputar di kepala seperti bintang-bintang kecil di langit hatiku. Bisa dan bisa kata-kata mereka. 
Aku mulai merangkak lagi menulis walau berdarah-darah. Lembayung lebay.


24 Oktober 2012

Bukan hanya rumah yang tumbuh tulisanpun tumbuh. kemudian hari aku menemukan Kumpulan Emak-Emak Blogger. Kedekatanku ketika menang kuis nonton film Tanah Surga Katanya. Berlanjut ada undangan dari DEPLU, semangat KEB berbagi termasuk berbagi kepercayaan diri untuk menulis.