1/23/2013

Asertif

Ketika menulis  Bagaimana Cara Mendidik Anak di Era Globalisasi  menemukan kata-kata asertif. Menjelajahi berbagai tulisan di blog dan e-book, saya mengambil kesimpulan asertif itu adalah adalah salah satu sebuah sikap komunikasi seseorang. Berani menyatakan pendapat tanpa harus membuat lawan bicara tersinggung. Sulit ilmu yang satu ini, tetapi bisa toh dipelajari.

Asertif  berdampingan dengan tegas. Berbeda dengan kasar, keras, agresif. Sering kasar dan keras diartikan sebagai ketegasan. Misalnya kita tidak suka dengan seseorang kita meludah di depannya dengan sengaja. Menurut saya itu kasar bukan tegas. Bukan menyatakan sebuah sikap yang baik. Kalau tidak setuju dengan seseorang lebih baik katakan daripada anda berkubang dengan kebencian. Seumur-umur anda akan dihantui oleh kebencian. Anda tak akan bisa fokus pada pekerjaan bila hati anda penuh kebencian. Ingat lho Allah Maha Tahu hati seseorang.

Hari ini saya menangkap seorang anak  meludah dari lantai dua. Saya tidak marah namun memilih memberi tahu dengan baik padanya. "Sebaiknya jangan lakukan itu  karena ludahmu  bisa mengenai orang yang di bawah."
Saya kira ia tidak masuk ketika pelajaran IPA. Guru  menerangkan  yang terkandung dalam  ludah tersebut. 

Ketika belum banyak membaca tentang komunikasi dengan anak dan  sikap  Rasul terhadap anak-anak, kadang saya  kasar terhadap anak-anak. Pemikiran dan sikap yang salah. Kasar dan keras terhadap anak memang cepat membuat mereka mematuhi keinginan saya. Namun umurnya tak panjang. Mereka patuh namun tak mengerti. Hanya takut.

Kadang takut membuat seseorang submisif, tidak berani mengemukakan yang dirasakannya dan tidak disetujuinya. Kalau mengatakan apa adanya membuat orang yang agresif akan melakukan sesuatu pada dirinya. Perlu perjuangan memang dari submisif ke asertif. 






No comments:

Post a Comment