8/31/2013

KOPI VIETNAM DAN INDONESIA

Day 5. Kopi. Baru kali ini aku menulis sambil naik pesawat. Biasanya baca, bengong atau ngorok kecil. Ini karena #10dayforASEAN bela-belain aktivitas favorit bye bye. Saking ingin menulis belum take off sudah mulai mengetik.
“Maaf Ibu, aktivitas mengetiknya boleh dilakukan setelah take off.”
Ketika lepi aku letakkan di lantai tak diperkenankan, bolehnya di kursi dan dipangkuan Kebetulan aku pindah duduk dekat pintu darurat (Letak kursi didesain berjauhan dengan kursi depan. Enak untuk selonjoran). Kemudian pramugari Citilink itu bertanya padaku bersediakah bila terjadi sesuatu aku membuka pintu darurat. Oh ternyata harus dilisankan bersedia membuka pintu darurat. Naudzubillah min zalik terjadi sesuatu. Aku serahkan hidup kami pada Mu ya Allah.

Kembali ke masalah kopi. Apa hubungannya ASEAN dengan kopi? Pertanyaan hari ke 5 ini kalau Indonesia dan Vietnam sama-sama jualan kopi. Berantem gak? Eh tidak seperti itu, tepatnya: Sekarang ini, minum kopi sudah menjadi bagian dari gaya hidup modern. Hampir di seluruh penjuru kota, tidak hanya di Indonesia tetapi juga ASEAN, banyak tersebar gerai kopi. Di dunia, negara penghasil kopi terbesar adalah pertama: Brazil,  kedua: Vietnam dan ketiga adalah Indonesia. Kedua negara terakhir adalah anggota ASEAN. Menuju Komunitas ASEAN 2015 ini, mampukah Vietnam dan Indonesia merebut pangsa pasar kopi dunia? Bisakah kedua negara tersebut menjadi partner produksi kopi, bukan menjadi rival atau saling bersaing.
Kopi Sumatera
Foto diambil dari  http://klik77.blogspot.com/2013/02/7-kopi-asli-indonesia-yang-mendunia.html




Bicara tentang kopi, Aku pernah ke kawasan Blok M... Hari ini tujuanku membeli kripik Sanjay. Sayang dekat parkiran sudah tidak terlihat orang berjualan. Aku coba tanya pada tukang parkir. Mereka tidak tahu. Padahal biasanya kangPark ini paling tahu daerah jajahannya. Masuk ke lantai dasarnya juga tidak tahu. Orang jual rengginang udang juga tidak ada. Aku tak lelah bertanya.

Akhirnya perburuanku sampai pada pertokoan kecil di tengah kawasan cafĂ© Jepang. Toko ini lucu. Dalam toko ini ada banyak toko kecil khas pasar tradisional.  Wow unik kawasan yang serba modern tiba-tiba satu pojokan tuiing ada pemandangan seperti itu. Pasti sering difoto ni pasar sama orang-orang asing.

Karena Sanjay tidak akhirnya aku membeli kue kering yang ada ditoples toples besar. Beberapa bule berseleweran dan ada juga wajah orang Asia. Aroma kopi menggelitik hidungku. “Maaangi,” kata adik (kayak orang betawi saja adik bilang wangi mangi).

Kopi itu masih dalam bentuk bijian. Pembeli memilih kopi. Jujur aku tak memperhatikan nama-nama kopi. Sekilas hanya kopi Robusta saja yang tercetak di mataku. Ada dua pedagang berseberangan. Aku langsung kepikiran Nah cerita ini bisa dianalogkan dengan Vietnam dan Indonesia. Coba mereka sama-sama berdagang namun tak terlihat wajah permusuhan. Mereka percaya kalau sudah rejeki tak akan lari kemana, yang penting buat jual kopi dengan kualitas nomor wahid.

Pembeli tinggal memilih. Bersaing dengan sehat. Dalam skala antar negara bagaimana? Menurutku sama. Fair saja. Bila pesaing lebih baik kualitas kopinya. Mengapa tidak dicari solusi agar punya kopi paling tidak sama dengan mereka. Syukur-syukur lebih bagus 


Vietnamese iced coffee

Foto diambil dari: http://en.wikipedia.org/wiki/Vietnamese_iced_coffee
 .

Dalam ASEAN ECONOMIC COMMUNITY ada aturan.  Jadi tak mungkin gontok-gontokan karena hanya jualan kopi. Tinggal buka pasar saja. Kalau tak dijual di Negara A bisa di Negara B.

Pada komunitas  ini ada ASEAN Ministerial Meeting On Agriculture and Forestry (AMMAF), Kerjasama di bidang pertanian sudah sejak tahun 1968 dilakukan oleh para anggota ASEAN, berkerjasama dalam produksi pangan dan pasokan. Pada tahun 1977 diperluas kerjasama ditambah pada bidang kehutanan. meliputi ketahanan pangan, penanganan makanan, tanaman, peternakan, perikanan, pelatihan dan penyuluhan pertanian, koperasi pertanian, kehutanan, dan kerjasama di bidang pertanian dan hasil hutan skema promosi.

Ada 7 bidang prioritas yang dibahas para Menteri pada KTT ASEAN ke empat tahun 1992  untuk memperkuat kerjasama regional dalam bidang pengembangan, produksi, dan promosi produk pertanian

  1. Memperkuat ketahanan pangan di daerah;
  2. Fasilitasi dan promosi intra - dan ekstra - ASEAN perdagangan produk pertanian dan kehutanan ;
  3. Generasi dan transfer teknologi untuk meningkatkan produktivitas dan mengembangkan agribisnis dan silvo - usaha;
  4. Masyarakat pedesaan pertanian dan pengembangan sumber daya manusia ;
  5. Keterlibatan sektor swasta dan investasi ;
  6. Pengelolaan dan konservasi sumber daya alam untuk pembangunan berkelanjutan;
  7. Memperkuat kerjasama ASEAN dan pendekatan bersama dalam menangani isu-isu internasional dan regional
Tulisan  ini diikutsertakan dalam lomba  http://aseanblogger.com/lomba-blog-10daysforase-an






Sumber Tulisan:

http://www.asean.org/communities/asean-economic-community/category/asean-ministerial-meeting-on-agriculture-and-forestry-amaf

No comments:

Post a Comment